2025 berjalan dengan biasa-biasa saja. Sangat bergelora dalam mengabdi di cabang. Hingga lupa kalo disaat yang sama juga menjalani studi magister di UIN. Akhirnya, secara sadar mengorbankan salah satunya: 2 semester tidak kuliah. Dan iya, secara sadar.
Berada di cabang memang menyisakan pengalaman yang berharga. Bertemu kawan kolektif dari berbagai kampus. Dan mencoba menjadi kakak yang baik bagi semua komisariat. Setidaknya itulah ekspektasinya.
Realitanya? Berpolitik dan bersenang-senang. Kendati programku berjalan semua, tapi sejujurnya aku merasa masih ada yang kurang. Tidak memiliki dampak ke komisariatku. Dan tidak memiliki dampak ke individuku. Setidaknya dampak yang signifikan. Tapi yasudahlah. Setidaknya telah berjuang dan mempertanggungjawabkannya hingga akhir.
Bertemu orang baru, dengan karakter baru, memang asyik dan melelahkan. Beberapa nama yang awalnya tidak akrab, akhirnya menjadi akrab. Bahkan membersamaiku, untuk tidak menyebut istilah kumanfaatkan, selama berada di cabang.
Ada Beni, sosok ketua yang lihai mengadu domba. Bukan nama baru, tapi baru benar-benar mengenal ketika di cabang. Ada Tsaqif, sekretarisku yang sangat nriman. Apapun ide dan keinginan yang kuungkapkan selalu diterima. Ada Dika, bendahara yang dermawan dan gemar memberikan subsidi untukku. Walau bodoh, tapi keberadaannya sangat membantu dalam meminimalisir pengeluaran ditengah ketiadaan pemasukan. Ada Taufiq, sekretaris yang sesungguhnya memang sekretaris. Banyak menginisiasi langkah, dan ya, sedikit terealisasi. Serta kawan-kawan lain di pimpinan cabang yang tidak bisa dikomentari satu per satu.
Selain proses di komisariat, proses di cabang mungkin salah satu fase yang mengajarkanku arti kehidupan. Bagaimana memperjuangkan kepentingan supaya berjalan walau harus berkonflik. Ya, berkonflik dengan kawan kolektif komisariat. Bagaimana mengemas sesuatu yang sebenarnya sepele, tapi terasa berbobot hingga membuat semua orang yakin. Bagaimana mempengaruhi satu sama lain agar tunduk dan patuh. Atau setidaknya tidak merintangi jalan. Bagaimana menegakkan hal-hal prinsipil, agar marwah organisasi tidak rusak. Contohnya, persoalan GMPK. Tentu dengan resiko dimusuhi. Tapi ngga papa, resiko berjuang.
Cukup banyak yang bisa diceritakan dan dikenang sepanjang tahun 2025, terkhusus selama di cabang. Sebagai pengingat, ada beberapa momen krusial yang bisa menjadi patokan, seperti PM3, Diksuswati, Simposium Moderasi Beragama, dan Tanwir. Di tahun ini pula aku mengenal MCPR dengan lagu-lagunya yang menyihirku untuk menjaga api jangan memadam.
Dan ya, aku juga sempat bekerja sebagai enumerator NIHR di Desa Bakalan, Bululawang selama 3 bulan. Bersama Dika, Pak Arif, Fiqi, dan Ikrima. Lucunya, tugasku melakukan survei kesehatan dan mengingatkan pola hidup sehat, tapi disaat yang sama aku merokok. Ya mau gimana lagi. Yang penting tugas kelar, dan digaji.
0 komentar:
Posting Komentar