Minggu, 19 Juli 2026

Tentang Musiknisasi

Akhirnya bisa diakses kembali di versi umumnya. Dengan mengeluarkan sedikit uang. Ya, menghilangkan blogspot di akhir alamat. Biar terkesan profesional. Dan berdoa semoga traffic bisa mengalir kembali. 

Pemilihan nama musiknisasi sebenarnya tanpa alasan. Tanpa filosofi. Muncul begitu saja di kepala pada saat itu. Tahun 2015. Niatnya satu, membuat blog musik dengan potensi traffic yang besar. Sesuatu yang pasti dicari setiap hari. Tanpa mengenal kadaluarsa. Lahirlah tulisan tentang chord.

Aku juga ingin berbagi rekomendasi band dan lagu yang menurutku bagus. Subjektif memang, tapi coba dibungkus dengan objektif. Melalui riset kecil. Saat itu kugunakan istilah survei. Walau sekarang kusadari kalau istilah itu kurang tepat. Dengan bantuan Youtube dan Google Search, lahirlah tulisan tentang lagu terbaik.

Kedua rubrik tersebut, baik chord maupun lagu terbaik, hampir semuanya berupa lagu yang sedang kusukai saat itu. Sebut saja Endank Soekamti, Superman Is Dead, dan lain sebagainya. Ada juga beberapa band punk lokal. Pada saat itu masih lokal. Belum terkenal. Tapi sekarang, sangat populer. Salah satunya Rebellion Rose.

Kegemaranku menulis, membuatku sering berkhayal untuk menjadi seorang jurnalis. Jurnalis musik tepatnya. Terlebih aku hobi menikmati musik. Entah mendengarkan, atau menonton lewat konser. Hal yang kedua terakhir kulakukan sebelum Covid. Setelah Covid sudah tidak pernah.

Menurutku jurnalis musik itu keren. Bisa bertemu musisi, berbicara tentang musik, seluk-beluk sebuah lagu, hingga memberikan opini tentang geliat musik yang tak pernah padam. Tulisan jurnalis musik itu ngga bertele-tele. Singkat, padat, tapi bernas. Soleh Solihun, Adib Hidayat, Rudolf Dethu, adalah beberapa nama yang tulisan musiknya beberapa kali kubaca. 

Dan saat ini, alhamdulillah bisa menjadi jurnalis. Tapi bukan jurnalis musik. Ya ngga papa, setidaknya setengah impian waktu remaja bisa tercapai. 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar