Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Budak Uang

Katanya kalo punya yang bisa beli apa saja. Lalu menguasai dunia. Akhirnya hidup bahagia seperti di surga.

Mari kita bedah satu persatu.
Memulai bisnis butuh uang.
Sekolah butuh uang.
Mengisi perut butuh uang.
Sampai kencing di toilet umum saja butuh uang.

Wajar bila akhirnya mereka menyebut uang sebagai sumber kebahagiaan. Iyalah, siapa juga yang mau hidup menderita kemiskinan, kelaparan, tidak bersekolah, hingga tidak bisa membuang hajat di tempat yang layak.

Ada? Ya jelas ga ada.

Manusia itu diciptakan sebagai makhluk hidup paling sempurna dengan segala kelengkapan jiwa dan raganya. Saking sempurnanya, manusia kadang lupa kalau kesuksesan yang dimilikinya adalah titipan semata. Maka wajar bila dunia masih mengenal kasta yang berujung pada perilaku semena-mena.

Memang tak semua, tapi bukan berarti tidak ada yang melakukannya. Nyatanya, disekitar masih ada orang yang mendewakan uang.

Mari saling jujur, tanyakan pada hatimu. Bahagiakah kamu jika punya banyak uang? Tentu
Apa yang kamu lakukan jika punya banyak uang? Aku ingin ini itu.
Tapi bisakah kita menjamin diri untuk bisa menjaga diri agar tak mengikuti jejak mereka yang terlena dengan uang, lantas bertindak semena-mena? Tentu kita takkan bisa, karena bagi kita yang statusnya manusia, uang kadang bisa jadi rejeki dan ujian diri.

Beruntunglah kamu kalau uang banyak yang kamu miliki tak menjadikanmu sosok yang kikir, jahat dan maha dengki. Karena di luar sana, masih ada manusia yang terjebak menjadi budak dungu dari kekayaan mereka yang melimpah ruah.

Sebentar ijinkan aku meluruskan, karena tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi dan iri pada kalian. Hanya sebagai pengingat, baik bagi diri sendiri dan bagi siapa saja yang membaca.

Jika suatu hari kita diberikan kesempatan untuk menjadi kaya. Mari saling mengingatkan agar tak sampai menjual jiwa dan menjadi budak harta. Hingga akhirnya kita kehilangan jati diri. Lupa esensinya hidup sebagai manusia.

Lebih baik berdoa agar rejeki kita dicukupkan, bukan dilebihkan. Ya, cukup buat beli baju, beli makanan dan beli kuota.

Regards.



Share:

Kamis, 18 Januari 2018

Harta Terindah

Aku selalu benci mengunjungi tempat ini. Hawa-nya sangat tidak mengenakkan. Orang yang tergopoh-gopoh. Infus terpasang. Kursi roda berserakan. Dan jiwa-jiwa yang terbaring lemas di atas ranjang.

Ditempat ini ruh-ruh manusia dipertaruhkan. Antara tetap bersatu dengan raga, atau tercabut terbang ke alam baka. Antara hidup, atau mati.

Kematian memang tak bisa dielak. Memang benar, orang yang paling beruntung adalah orang yang tak dilahirkan di dunia ini. Yang tak bisa merasakan sakit, baik disakiti maupun menyakiti.

 Aku selalu mengingat perkataan bapak ketika di tempat ini, bahwa orang-orang yang terbaring disini ibarat karet yang sedang diulur. Kemungkinannya hanya ada 2, kalau tidak putus ya molor.

Jika putus berarti mati.
Jika molor berarti tetap hidup, namun tak se-sehat sedia kala. 

Yang kasihan adalah orang yang karetnya terus ditarik tapi tak putus-putus. Ia akan sakit, sehat, sakit, sehat, begitu terus. Sampai karetnya benar-benar molor, dan putus dimakan waktu. 

Berbahagialah orang yang sehat dan mati dengan cara yang tepat. Karena sehat merupakan harta terindah. Tapi sakit memang sudah menjadi hukum alam. Tak bisa ditolak.

Hari ini aku benar-benar ingin menangis. Melihat ibunda kawanku yang terbaring di rumah sakit. Lemas, dan tak berenergi. Semua dikarenakan sakit yang telah menggerogotinya sejak 3 tahun kebelakang. Ia hanya bisa berbaring, sambil memberikan senyuman dan beberapa patah kata. 

Aku tak tega untuk terus menerus menatapnya. Aku hanya bisa berdoa, dan berdoa. Tak lupa kusisihkan uangku untuk beli parcel, agar menenangkan kawanku yang selalu setia menemani ibundanya. Yang tegar ya Bin, kamu kuat kok.

Tak tahu lagi aku harus menulis apa. Aku ingin menangis.

- PKU Muhammadiyah, 17 Januari 2018






Share:

Rabu, 13 Desember 2017

Perempuan Itu

"Disarankan untuk membaca Konspirasi Semesta dan Matahari terlebih dahulu"

Ketika berusia 20, perempuan itu menyadari ada keganjilan dalam dirinya. Suatu hari, perempuan itu mengetahui  bahwa hidupnya terancam duka sebab matahari di dalam dadanya hanya tinggal sebesar bola mata.

Perempuan itu tidak ingin mati dalam sepi. Ia berencana untuk mengisi lagi ke dalam dadanya sebongkah matahari. Tetapi, dari mana ia bisa mendapatkannya? Ia bisa saja mencuri matahari. Tetapi, orang-orang akan tahu bahwa matahari hilang, sebab mereka terbiasa mendongak keatas ketika siang datang.

Permpuan itu tidak ingin membuat onar. Tetapi apabila dadanya dibiarkan kosong tanpa matahari, ia takkan pernah mampu lagi untuk hidup bahagia. 

Pad akhirnya, perempuan itu memutuskan untuk mencuri bulan. Bukankah bulan adalah cermin terbaik dari pijar matahari yang mengesankan? Lagipula, tak banyak orang yang peduli pada langit malam hari. Semua orang lelap. Semua orang lindap dalam kantuk dan istirah. Tak peduli apakah di langit malam bulan sempat singgah.

Seperti jantung, langit berdetak tak ada yang meilhat.

Pada malam yang ditentukan, perempuan itu naik ke lantai empat gedung apartemennya. Lalu menaiki tangga menuju langit, sekali dilempar, mata kailnya memagut bulan. Ditarik, hingga sampai dalam dekap.

Keesokan paginya, langit menggeliat seperti biasa; Seperti sedia kala. Dan seumpama luka, senyum perempuan itu semakin menganga. Tetapi ia tidak tahu bahwa di tepi samudera pasifik dan arktik, di pinggiran samudera hindia dan atlantik. Beribu nafas terhempas dibawah kibasan ombak lautan yang menderas.

Perubahan posisi bulan telah mengacaukan sistem arus. Melahirkan ratusan banjir, ratusan daerah anyir.

Bukankah itu adil?

- Embong Kembar, Desember 2017


Share:

Selasa, 12 Desember 2017

Konspirasi Semesta dan Matahari

Kala malam menyambut, ditengah riuh sesak candaan teman-teman lelakimu. Kau memilih untuk diam rebah didekatku. Sesak katamu, cukup sudah lelah sudah. 

Kukira saat itu juga kau akan terlelap, tapi nyatanya mulutmu belum lelah berbicara. Kau mulai berbicara tentang konsep mengenai Tuhan. Yang menurutmu Tuhan adalah satu dan hanyalah satu, tidak bisa terkonsepkan--tambahku.

Dan terdiam kau berpikir sejenak sebelum menjabarkan hitungan-hitungan waktu yang meliputi alam semesta, perputaran planet, masa semuanya, masa kita sebagai manusia, mengenai siklus dan mengenai waktu.

Hitunganmu agak meleset. Disana aku menyadari sembari menertawaimu. Selarut ini masih bisa ya memikirkan tentang perhitungan alam semesta.

Konspirasi alam semesta ...

Kita tidk tahu menahu tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Yang pasti kelahiran akan selalu ditutup dengan kematian. Semuanya berjalan dalam sebuah siklus.

Begitu pula dengan yang disebut orang sebagai 'cinta'. Cinta saja tidak perlu mengharapkan balasan, jika berbalas itu sebuah keuntungan sendiri. Sekarang tinggal nikmati saja buah-buah dari cinta itu sendiri. Lagipula cepat atau lambat, manusia akan berpisah satu dan lainnya.

Kuharap semesta melibatkan kita dalam masa yang sama. Kuharap genggaman tanganmu malam itu bukanlah hal yang fana. Karena kini ku telah tenggalam dalam suatu bagian darimu.

Kenyamanan memang membelokkan. Tapi jika cinta, ya cinta saja. Cinta tak butuh pembalasan. Cinta tak butuh paksaan. Tapi aku hanya berharap kita berada dalam suatu putaran siklus semesta yang sama

Biar semesta bicara ...

Tahukah kau? Pada saat lahir, setiap orang memiliki matahari dalam dadanya?

Matahari yang mengisi penuh rongga dada. Menjadi sumber segala suka cita, simpul senyum dan gelak tawa. Matahari adalah hadiah keriangan dari semesta. 

Sayangnya matahari itu mengecil seiring bertambahnya usia. Itulah mengapa anak-anak adalah makhluk paling riang sedunia. Sementara orang dewasa adalah manusia-manusia murung yang lebih banyak meratapi nestapa. Terkutuklah orang-orang sok dewasa wgwg.

- Terminal Arjosari, Desember 2017


Lanjutan Artikel : Perempuan Itu


Share:

Minggu, 10 Desember 2017

The Power Of Malang

Sulit sekali mencari kehangatan abadi di Kota Batu. Setiap saat selalu ada hawa dingin yang menusuk. Tak mengenal pagi dan malam, yang tak diundang-pun akan tetap datang. Mungkin ada beberapa solusi untuk menghangatkan badan. Meskipun hanya sebentar. Apalagi kalo bukan makanan khas Malang: Bakso.

Memang banyak sekali warung bakso di Kota Batu, dan kuputuskan untuk mampir di salah satu warung dekat Alun-Alun Batu. Di pojok pasar, sepi, tak terdegar riuh ramai wisatawan. Sangat nyaman untuk sekedar menghangatkan badan ini.

Yang menjual adalah seorang pria, mungkin sekitar 50-tahunan. Rambut mulai memutih. Badan sudah sedikit bungkuk. Faktor usia mungkin. Berpakaian koko rapi bak habis dari masjid. Ya dilihat sih beliau muslim. Bodo amatlah dengan agama yang dianut.

Singkat waktu, satu porsi pesanan baksoku telah tiba. Sambil makan perlahan, aku membuka percakapan dengan beliau. Ya tentu saja. Dengan tema yang sudah membumi di Malang Raya, apalagi kalau bukan Arema. Lah kok ndilalah tepat juga. Beliau ini adalah mantan korwil Aremania. 

Kami berbicara panjang lebar mengenai kondisi Arema masa lalu dan sekarang. Dan ketika beliau tau kalo aku mondok di Yogya, beliau langsung nyerocos kisah masa mudanya ketika awayday ke Yogya. Saat itu masih era Galatama dan bermain melawan PSIM. Dan apesnya, para Aremania kala itu ada crash dengan PSIM, sehingga tidak bisa pulang dan terpaksa bermalam di stadion. 

Lah kok ndilalah lagi Kapolda Yogya saat itu adalah wong Malang. Walhasil pak Kapolda ini memberikan bantuan keamanan dan  menyediakan tumpangan bis gratis bagi Aremania sampai ke Malang. 

Memang, kalo sudah ada panggilan jiwa, orang Malang akan keluar Malange. Huft

- Pasar Malem, 2017



Share:

Jumat, 02 Juni 2017

Maaf, Aku Memilih Kiri Kawan

Bukan salahmu, kawan
5 tahun yang lalu aku mengambil jalan yang berbeda
Aku lebih memilih kiri dengan segala kesendiriannya

Bukan salahmu, kawan
Kau mengambil jalan yang tak sama denganku
Jalan kanan bersama kawan-kawan lain

Semua hanyalah pilihan
Yang akan kembali pada jalan yang sama
Jalan yang mempertemukan kita semua seperti sedia kala

Kelak,
Kita membawa cerita masing-masing
Suka duka masing-masing
Dan kisah aneh lainnya.

Tapi, sungguh sayang sekali
Aku merasa berbeda saat itu, terasing

Aku hanya bisa mendengarkan kisahmu
Lika-likumu bersama kawan-kawan sejalanmu
Yang terdengar seru sekali

Sementara dirimu, 
Bisa merasakan adegan sebenarnya
Mengetahui seluk-beluk kisah itu.
Seakan menjadi tokoh serba tahu

Memang benar,
Tertawa karena mendengarkan
Dan tertawa karena merasakan
Sungguh berbeda

Tapi itu bukan salahmu, kawan
Itu adalah salahku
Maaf, aku memilih kiri kawan


Warung Mbak Inge, 2 Juni 2017

Regards




Share:

Rabu, 31 Mei 2017

Ekonomi Tidaklah Mudah

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena alhamdulillah di umur yang ke 17 ini saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu bulan penuh keberkahan dan sedikit kelaparan, bulan Ramadhan. 

Hari dimana umat muslim diseluruh dunia berfastabikul khairat, memanen pahala di ladang mereka yang mulai berbuah. Tidak ada bulan yang lebih baik daripada bulan ramadhan, pada bulan inilah Al-Quran diturunkan yang kemudian kita kenal sebagai Nuzulul Quran.

Betapa mulianya bulan Ramadhan, heuheu

Mengawali bulan ramadhan di tahun ini, saya mendapatkan pengetahuan baru dan sangat urgent bagi saya sebagai calon pengusaha sukses heuheu. Pengetahuan ini saya dapatkan ketika mengikuti kajian shubuh bersama Profesor Candra Fajri di Masjid At Taqwa. 

Beliau merupakan pakar ekonomi di Universitas Brawijaya Malang.

Pada kesempatan yang mengantukkan tersebut, beliau bercerita panjang lebar mengenai ekonomi negara dan ekonomi islam. Gaya bicara beliau sangat menarik, dengan nada yang berat khas orang tua tetapi menghanyutkan dan berapi-api khas anak muda.

Salah satu hal yang baru saya tau adalah mengenai tanah wakaf, karena beliau menekuni bidang ekonomi, wajar jika beliau memahami dampak positif dan negatif serta cara mengakalinya. 

Jadi, ternyata, tanah wakaf itu, mau luasnya besar ataupun kecil, jika dalam jangka waktu tertentu tidak ada kegiatan yang berarti disana, maksudnya dibiarkan begitu saja. Maka, negara berhak mengambil alih tanah wakaf tersebut. 

Dan itu sudah diatur didalam undang-undang. Hebat bukan, heuheu

Oleh karena itu, bagi yang mempunyai tanah wakaf tapi masih nganggur, mending dimanfaatkan aja, mau ditanami apa gitu kek, atau disewakan juga bisa. Toh  kalo kita manfaatkan tanah tersebut, maka nilai tanahnya bisa naik. Dan itu benar-benar berdampak positif loh.

Selain itu, hal yang paling saya ingat adalah perihal LHKPN. Yakni Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Yups, ini adalah suatu kewajiban bagi setiap pejabat negara, tak terkecuali.

Konon, katanya pengisisan LHKPN ini sangatl sulit, karena harus mendetail dan dapat dipertanggung jawabkan. Darimana uang ini berasal, terus dihabiskan buat apa. Semua sangat mendetail, ini mobil beli dimana dan pake uang siapa, tv itu juga pake uang siapa, dan lain-lain. Nyebai dah pokoknya.

Toh kalo laporannya palsu dan tidak dapat dipertanggung jawabkan, maka orang tersebut bisa dipidana alias dipolisikan. Heuheu

Makanya, paling enak adalah menjadi pejabat kere, heuheu

Regards




Share:

Jumat, 12 Mei 2017

Entah Sejak Kapan

Entah sejak kapan kita bersimpangan jalan. Rasanya dulu kita berteman. Berjalan beriringan. Berkelana mencari kebenaran.

Entah sejak kapan jembatan yang menghubungkan kita dirobohkan. Tanyalah mereka yang pernah bersamaku di sebuah kota kecil di kaki gunung Cikurai ketika menuntut ilmu kebajikan. Poster besar pak tua kharismatik bersurban, hitam berjanggut perak tertempel kokoh di dinding bilik, lurus di atas dipan. Tidakku ingat benar dari mana gambar besar itu didapatkan. 

Entah dibeli, entah hadiah dari teman. Yang pasti kami tidak terlalu peduli dari sekolah apa pak tua itu ditempatkan. Pak tua itu menjadi semacam sebuah inspirasi penuh letupan. 

Sebuah keberanian mendobrak dan melawan. Di bawah sudut poster itu aku tuliskan sebuah kaligrafi penuh bara: isy kariman au mut syahidan! Dalam sorot mata tajam pak tua itulah kami mengaji, membaca, bercanda, berkelahi dan belajar ilmu kehidupan. Sungguh disana tidak ada riak kebencian.

Entah sejak kapan kita terpisah tanpa sempat berpamitan. Kami para belia Islam, dulu, menggandrungi seorang alim yang meneriakan pembebasan. Di dalam lemariku yang berdesakan, ada buku pria plontos yang menganjurkan kami menjadi raushan fikr: nabi-nabi sosial, para pemikir tercerahkan. Rasanya aku dekat dengan dia, entah kapan kebencian itu mulai diajarkan.

Ya, sejarah kita memang sejarah berlainan. Tapi entah sejak kapan masa lalu getir itu diundang hadir kembali disini jika hanya ingin menebalkan garis batas antara kami dan kalian.

Entah sejak kapan benih kebencian itu kembali dijamah. Izinkan aku beragama secara sederhana untuk mengusir jejak kebencian sampai musnah. Tidak perlulah urat leherku menyembul menjajakan asmaul husnah. Tidak perlu pula jubah kalau hanya untuk menutup hati yang penuh nanah.

Regards from Raja Juli Antoni


Share:

Selasa, 02 Mei 2017

Mendengarkan Pejabat

Datang akan pergi
lewat kan berlalu
ada kan tiada
bertemu akan berpisah

Keluarga Resident (91) hari ini telah menjadi purnakader Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Mereka telah resmi menjadi alumni. Setlah 6 tahun lamanya terkurung di kawah candradimuka. Berbagai pelajaran berharga dan tak berharga tentu telah mereka dapatkan. 


Dengan segala keunikan dan ke-estetikan mereka, keluarga 91 dilepas oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dihadiri oleh salah satu pejabat penting di Indonesia. Yups, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Bapak Zulkifli Hasan.


Kebetulan saat itu saya menjadi bagian iringan penyambut beliau, saya memakai jas IPM dan bertatap muka secara dekat dengan beliau yang kemudian dengan sigap beliau berjalan menuju kursi tamu di depan barisan undangan.


Beberapa saat kemudian, beliau naik ke atas mimbar untuk memberikan pidato sekaligus sosialisasi 4 pilar. Perpisahan feat sosialiasi 4 pilar, menggelikan bukan.


Ketika momen yang santai dan penuh haru malah dijejali dengan sesuatu yang formal, sungguh racikan yanh tidak pas. Heuheu

Awalnya beliau bercerita tentang masa kecilnya, cukup menarik. Tapi ketika masuk bagian sosialiasi, keadaan mulai berubah.

Semua menjadi membosankan, garing, stagnan, tak ada inovasi sama sekali.

Padahal yang ngomong ketua MPR loh, ketua MPR!

Tapi kok memuakkan yah.

Sayang sekali.

Regads





Share:

Kamis, 12 Januari 2017

Dinamika Cabe-Cabean


Orang cepet lupa. Itu sudah pasti. Siapa nama Menteri BUMN sebelum ini, belum tentu kita ingat. Di sektor lagu-lagu dangdut, kita mungkin cuma kenal Rhoma Irama. Sesungguhnya ada banyak banget penyanyi yang top-top di lapangan dangdut. Tapi ya itu, manusia cepat banget lupa. Tegar misalnya, yang pernah top dengan lagu Aku Yang Dulu, belum tentu orang ingat.
Dan akhir-akhir ini, tanah Indonesia sedang gonjang ganjing gara-gara Pak Jokowi menaikkan harga bensin. Nggak cuman bensin doang sih, tarif dasar listrik, biaya pembuatan STNK dan BPKB juga naik. Bahkan cabe aja harganya melambung, tapi yang perlu diperhatikan, harga cabe melambung bukan karena pemerintah menetapkan harganya segitu.
Tapi karena sedang gagal panen sentra pertanian cabenya, sehingga cabe menjadi langka dan mahal. Tapi insya allah cabe-cabean masih banyak kok heuheu.
Nah hal ini semacam ini, kalo menurut Sudjiwo Tejo adalah semacam pesta.
Pemanasan Semesta.
Soal pemanasan semesta, kayaknya juga bukan sekarang-sekarang aja rame. Pernah pas SBY masih menjabat presiden soal ini diramaikan. Seingat saya pas itu BBM mau naik dan mahasiswa demo di gedung DPR MPR, sampe merusak pagar dan sedikit ricuh gitu. Ngeri-ngeri sedap kalo kata almarhum Sutan Bathoegana heuheu.
Namun ada hal yang menarik mengenai kenaikan harga-harga di Indonesia, terutama kenaikan BBM. Hampir semua presiden yang memimpin Indonesia, pasti menaikkan harga BBM. Bukan karena tradisi, tapi itu karena tuntutan pasar.
Tahun berganti tahun pasti harga minyak dunia juga berubah, dinamis. Maka saya kira wajar saja jika harga BBM naik turun, namanya juga zat cair, pasti bergelombang heuheu. Sedikit bernostalgia kepada pasang surut tarif BBM di Indonesia :
Ketika zaman Pak Harto, harga BBM yang awalnya Rp. 150 naik 700% menjadi Rp.1200. 
Ketika zaman Pak Habibie, harga BBM yang awalnya Rp.1200 turun 16,6% menjadi Rp.1000
Ketika zaman Gus Dur, harga BBM yang awalnya Rp.1000 naik 45% menjadi Rp.1.450
Ketika zaman Bu Mega, harga BBM yang awalnya Rp.1.450 naik 24,82% menjadi Rp.1.810
Ketika zaman Pak SBY, harga BBM yang awalnya Rp.1.810 naik 259,11% menjadi Rp.6.500
Dan baru saja ketika Pak Jokowi masih menjabat presiden, harga BBM yang awalnya Rp.6.500 naik 0,76% menjadi Rp.6.550
Selain itu, ada juga sisi positif dari kepemimpinan Jokowi kali ini, yakni menyama-ratakan harga BBM di seluruh Indonesia, seperti kita ketahui semua bahwa harga BBM di Papua Rp.40.000 / liter yang kemudian diturunkan harganya sesuai dengan harga BBM di Pulau Jawa.
Itulah yang dinamakan ...
Keadlian Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Isu diatas mungkin juga akan mengalami hal yang sama, mudah dilupakan orang seperti isu LGBT. Agar tak mudah lupa, agar bumi tak makin panas, mungkin caranya terus-menerus dihembuskan isu-isu baru dan seger. Brrr
Regards


Share:

Selasa, 10 Januari 2017

Tak Terduga

Beberapa orang berpakaian putih, berkopiah, bersarung khas anak pondok, terlihat sedang duduk melingkar dengan seorang senior ditengahnya, namanya Mas Hawary. Saya pun bergabung didalamnya. Berdiskusi dengan tema yang asing di pikiran saya.

Polemik Pergerakan Mahasiswa

Beliau bercerita mengenai pengalamannya di pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau lebih populer disingkat IMM.

Mulai dari politik persaingan dengan pergerakan lain seperti KAMMMI, HMI, dan lain-lain serta kotor busuknya politik didalamnya

Seperti kasus pemilihan ketua BEM yang penuh kelicikan dan mendistorsi asas LUBERJURDIL. Dalam dunia pergerakan mahasiswa politik merupakan ilmu yang sangat penting, namun sayang apabila dibarengi dengan praktek yang kotor, seperti politik uang dan kartu suara bodong.

Ibarat negara, universitas adalah satu kesatuan dari pelbagai bagian, dan tentunya diperlukan pemimpin untuk memanajemennya.

Yang ekskeutif itu BEM
Yang legislatif itu DPM
Yang presiden itu ketua BEM
Yang gubernur itu ketua fakultas
Yang bupati itu ketua jurusan
Yang lurah itu ketua kelas
Dan mahasiswa adalah rakyatnya

Keos antar golongan seharusnya merupakan hal yang lumrah, tapi lebih baik dihadapi dengan kedewasaan, bukan kekanak-kanakan.

Jika bisa bernegosiasi
Ya jangan maen fisik
Macam anak SD aja heuheu.

Eits, saya kan masih pelajar SMA deng, belum mahasiswa. 

Regards

Share:

Minggu, 01 Januari 2017

Kejahatan Terselubung

Masih ada saja orang yang mengambil keuntungan dengan cara yang haram, semacam korupsi kecil-kecilan.

Dan saya baru menyadarinya ketika kemarin pelesir ke Pantai Sendiki. Seperti biasa, sebelum merasuki daerah pantai akan melewati pos TPR atau penarikan retribusi.
Biasanya sih nominalnya 5000 perkepala, dan itu keuntungannya dibagi antara pemerintah dan rakyat. Dan kemarin saya baru saja menyadari dan mungkin temen-temen juga ada yang mengalaminya, ketika masuk rombongan, semisal 10 orang, terus disuruh bayar 50.000.

Setelah itu kan dikasih karcis.
Tapi karcisnya cuman 8.
Mana yang 2.

Nah itu yang dinamakan korupsi kecil-kecilan. 2 karcis yang hilang itu tetap pada tempatnya, agar penjaga TPR dapat keuntungan dari 2 karcis tersebut.

Ya meskipun untungnya nggak banyak tapi lama kelamaan kan jadi berlimpah.
Sepertinya korupsi sudah menjadi urat nadi masyarakat deh, heuheu.

Regards

Share:

Senin, 26 Desember 2016

Praktek Kerja Lapangan

Laki-laki didepan saya ini, adalah Cahyo, kawan saya semasa SD dulu, Berperawakan seperti orang Jawa biasanya, sawo matang dan murah senyum. Kami mengobrol selama beberapa saat  disana, sambil menghisap beberapa tembakau kanabis U racikan U Bold miliknya, dan itu  mengganggu saya, kepulannya sangat tidak bersahabat di hidung.

Kami awali obrolan ini dengan pengalaman masing-masing setelah lama tidak bertemu, dan kemudian dia menyambungkan obrolannya tentang PKL-nya yang sedang dia jalani. PKL atau kepanjangannya Praktek Kerja Lapangan adalah semacam ujian praktik bagi anak-anak SMK, kalo udah kuliah namanya KKN. 

Ya hampir persis lah,

Dia mengambil jurusan farmasi, jadi PKL-nya adalah njaga apotik dan kebetulan apotiknya ada di Punten, tidak terlalu jauhlah dari rumahnya. Beda dengan kawan saya yang bernama Firman, dia mendapatkan tugas di daerah Malang, sehingga dia harus ngekos disana agar nggak bolak-balik Batu-Malang.

Dan yang lebih parah lagi adalah kawan saya yang bernama Rayis, dia mendapatkan tugas di Pembangkit Listrik Paiton, Probolinggo. Jauh sekali dari Batu, tapi ya beruntung orang tuanya juga pindah tugas disana, jadi masih ada yang mengkontrol.

PKL ini adalah masa yang istimewa bagi anak SMK menurut Cahyo, karena disitu dia bisa merasakan bagaimana ntar pas dewasa ketika bekerja, menjadi apoteker. Harus datang pagi-pagi, pulang sore, menunggu pembeil, menghafalkan obat dan meracik resep.

Udah terasa kayak bekerja aja, tapi bedanya kalo PKL nggak digaji.

Cuman sukarela aja sih.

Berbeda dengan anak SMA dan MA seperti saya, tidak ada kayak gitunya, paling cuman bikin Karya Tulis Ilmiah atau yang sejenisnya. Nggak ada pengalaman kerjanya heuheu.
Emang nasib.

Regards

Share:

Kamis, 22 Desember 2016

Jatim Park 3 Didepan Mata

Kantor Satlantas Polres Kota Batu, adalah tujuan destinasi wisata saya pagi tadi, yups, saya kesana menemani saudara saya yang mau tes SIM, kalau saya sih tahun depan aja, soalnya untuk tahun ini masih 16 tahun, nah tahun besok pas 1 Februari udah 17 tahun deh, udah bisa bikin KTP heuheu.

Usai mendaftar, saya pulang naik motor dan melintasi Jalan Raya Beji sambil menghisap campuran tembakau kanabis dengan cappucino (BC), suasana jalan saat itu sepi, maklum lah ya orang kantoran udah masuk, tapi ditengah perjalanan mata saya terbelalak melihat plang dengan tulisan

"Mohon Doa Dan Restunya Karena Disini Akan Dibangun Jatim Park 3" 

Jangkrik, belum apa-apa sekarang udah mau dibangun Jatim Park 3, saat itu saya belum percaya sampai kemudian saya tanya sama bapak, dan ternyata iya disana mau dibangun Jatim Park 3.

Kok bisa ya, batin saya.

Wong di Batu saja wisatanya udah banyak, masih aja dibangun wisata lagi, dan itupun lokasinya di Jalan Beji, pintu masuk utama ke Kota Batu kalo lewat Malang dan Surabaya, di weekend aja disana udah macet, apalagi kalo ditambah wisata. Bisa tua dijalan ntar.

"ini yang bangun siapa sih, yang ngebolehin siapa sih, yang ngasih izin siapa sih, nggak mikir kali ya"

Beberapa tulisan diatas adalah pikiran pertama saya setelah melihat dan mengetahui kalo mau dibangun Jatim Park 3 di Kota Batu. Tapi saya nggak mau berhenti disitu saja, saya harus mengetahui asbabun nuzulnya kok bisa pemerintah memberikan izin kepada pengembang padahal seharusnya mereka tahu, disitu itu tempat yang menghubungkan Kota Batu dengan luar, harus steril dari kemacetan dan keramaian, seharusnya.

Dan setelah saya browsing di internet, hasilnya pun memuaskan.

Yang sebelumnya saya kecewa karena kemacetan yang akan timbul, ternyata disana pengembang akan melebarkan jalan yang sebelumnya cuman dua ruas menjadi 4 ruas, dan yang bikin saya seneng lagi adalah akan dibangun jalan layang untuk mengurangi kepadatan kendaraan.

Wow, jalan layang di dataran tinggi. Keren tuh kayaknya.

Terus yang bikin saya lega lagi adalah nanti dengan selesainya pembangunan Jatim Park 3, pengembang memprioritaskan karyawannya adalah SDM asli Kota Batu, yang nantinya diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran di Kota Batu. 

Pun disana nanti para pedagang bisa menjual dagangannya di Jatim Park 3, lumayan ada tempat berjualan baru dan strategis pula. Good idea lah. Dari yang awalnya saya pesimis akhirnya saya menjadi optimis, karena pembangunan Jatim Park 3 ini juga banyak manfaatnya, futuristik lah ya.

Ya mau gimana lagi, sepertinya Kota Batu emang udah ditakdirkan menjadi Kota Wisata. Setiap tahun berganti, akan muncul wisata baru di kota ini. Dan semoga dengan kemunculan tempat wisata baru dapat diseimbangkan dengan berkurangnya angka pengangguran dan kemiskinan.

Shining Batu !

Regards



Share:

Jumat, 16 Desember 2016

Miss Mindset

Siang tadi, saya nongkrong di tempat langganan saya, Warung Mbak Ing, sambil ber-ramah tamah dengan kawan lama. Dengan sentuhan Pop Ice Taro dan sebatang tembakau kanabis racikan PT Gudang Garam.

Disana saya mendengar obrolan kawan lama saya mengenai kondisi teman-temannya yang semakin memprihatinkan. Kondisi yang sama persis terjadi di daerah pedesaan/perkampungan, dimana belajar di sekolah tidak lagi menjadi suatu kewajiban bagi anak.

Pada umumnya di daerah pedesaan, tidak mengenal konsep belajar tingkat lanjut, mayoritas dari mereka akan berhenti belajar di sekolah pada waktu SMA, bahkan SMP. Karena pola pikir mereka hanya terfokus bagaimana caranya agar bisa bersawah, berladang, dan bekerja. Tidak peduli berapapun bayarannya asal bisa makan minum, itu sudah cukup.

Sebagian orang lain beranggapan bahwa hal seperti itu adalah kesederhanaan.

Salah besar.
Sekali lagi salah besar.

Indonesia tidak akan bisa maju jika pola pikir masyarakatnya masih seperti ini. Belajarlah setinggi-tingginya, belajarlah sampai matahari terbit dari barat. Tidak hanya mengandalkan kata 'bisa'. Tapi andalkanlah kata 'mampu' dan 'faham'. Sekarang ini, hampir 90 % pekerjaan membatasi jenjang pendidikan bagi karyawannya. Ada yang batas minimalnya SMA, D1, D2 dan lain sebagainya. Bahkan di beberapa wilayah untuk menjadi sesosok guru minimal harus S1, dan untuk menjadi dosen harus meniti karier sampai S2 terlebih dahulu.

Oleh karena itu, saya sedikit sedih mendengar beberapa kawan saya yang berhenti sekolah tanpa alasan yang jelas, saya yakin bukan masalah ekonomi yang menyebabkan mereka berhenti. Tapi masalah kemauan dan pergaulan. Jikalau memang menjadi anak yang pemalas, belajarlah di sekolah yang isinya pemalas semua, jangan belajar di sekolah yang isinya anak-anak rajin.

Ntar malah terbelakang dan menunda naik kelas.

Dan juga, 

Nggak ada yang namanya DO dalam sistem sekolah, terutama SMP dan SMA. Untuk keluar dari sekolah tak sebercanda itu, sebenarnya, apabila ada suatu kasus yang dialami sangat krusial, pasti kepala sekolah akan memberikan 2 pilihan, mengundurkan diri atau diundurkan. Tapi mau milih yang mana saja, yang diputuskan pasti mengundurkan diri.
Mengingat keberlanjutan siswa yang bersangkutan apabila di DO, akan susah mendapatkan sekolah lagi. Makanya pilihan yang sangat bijak apabila ditulis mengundurkan diri.

Itu aja sih, 

Regards


Share:

Jumat, 25 November 2016

Masih Yakin Mau Kaya ?



“Tapi kan banyak orang kaya yang pelit, korupsi, bejat, tidak punya kepedulian sosial, kejam, bla… bla…”

Memang, ada sebagian orang kaya yang seperti itu. Tapi itu bukan berarti kekayaan merupakan sesuatu yang buruk, bukan?
Kekayaan itu sama seperti pisau. Baik buruknya tergantung dari siapa yang pegang, digunakan untuk apa, dan didapatkan dengan cara seperti apa.

Kalau harga dipegang oleh orang yang beriman, insya Allah akan mampu menegakkan nilai-nilai Islam di muka bumi ini.
Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Rasyid Nikaz merupakan contoh nyata. Bagi yang belum tahu kisahnya, bias dibaca di tulisan Ayo Menjadi Kaya.  Dengan hartanya, mereka bisa membantu orang lain menjalankan syariat Islam dengan benar.
Coba bayangkan jika ada ribuan bahkan jutaan orang seperti Rasyid Nikaz di muka bumi ini. Maka yang namanya khilafah akan dengan sangat mudah tegak.
Mengapa saat ini Yahudi menguasai peradaban dunia ? Salah satu faktor utamanya: Karena mereka kaya dan menguasai perekonomian dunia.

Jadi kalau umat Islam ingin kembali menguasai dunia, maka kita harus berusaha menjadi orang kaya dan menguasai perekonomian dunia.
Regards from Jonru

Share:

Kamis, 24 November 2016

Ayo Menjadi Kaya

Kalau bicara soal kekayaan, harta, cara menjadi kaya, entah kenapa banyak sekali orang yang berkomentar negatif.

“Buat apa kaya kalau tidak berkah?”
“Buat apa kaya kalau dari hasil korupsi?”
“Buat apa kaya kalau tidak menjamin masuk surga?”
“Lebih baik miskin tapi beriman daripada kaya tapi bejat.”
Baiklah. Kali ini saya tidak berminat untuk membantah ucapan-ucapan seperti itu. Saya akan mulai dari sebuah kisah menarik, Kisah nyata yang satu ini terjadi di Perancis, sebuah negara yang memiliki prinsip bahwa agama adalah urusan pribadi setiap orang. Karenanya, pemerintah tidak memperbolehkan warga negaranya tampil di depan umum dengan menggunakan simbol-simbol agama. Salah satu contoh penerapannya: Perempuan yang ketahuan pakai cadar di depan umum, akan kena denda.
Aturan ini tentu saja membuat banyak muslimah yang terhambat dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.
Lantas, hadirlah seorang pengusaha kaya bernama Rasyid Nikaz. Dengan kekayaannya, dia membebaskan para perempuan bercadar dari kewajiban membayar denda.

 Berikut saya copas cerita singkatnya :

Namanya Rasyid Nikaz, seorang pengusaha perancis (keturunan AlJazair) yang dengan ringannya membayar denda bagi muslimah yang becadar di Perancis dan Belgia. Sebagaimana kita tahu perancis menerapkan larangan mengenakan cadar di tempat umum sebagai reaksi pemerintah Perancis atas berduyun-duyunnya kaum wanita Perancis mengenakan cadar, dan bagi muslimah yang tertangkap petugas memakainya maka akan dikenakan denda.
Maka sejak Perancis memberlakukan undang-undang tersebut, Rasyid Nikaz menyediakan dana 1 juta Euro dikhususkan untuk membayar denda bagi muslimah bercadar. Seolah dengan tindakannya itu dia mengatakan kepada wanita muslimah Perancis yang hendak bercadar: Pakai cadarlah sesuka kalian, jika terkena denda sayalah yang akan membayarnya.
Beberapa media melansir foto milyarder yang istrinya juga mengenakan cadar ini keluar dari kantor polisi dengan menegakkan kepala ( jauh dari kerendahan ) seusai membayarkan denda bagi 2 muslimah yang terkena denda. Atas perannya ini, Syekh Al-Khuwainy mengibaratkannya sebagai satu orang yang mengalahkan satu Negara. Semoga Allah Taala merahmati Rasyid Nikaz dan hartanya di dunia-akherat.
Kisah Rasyid Nikaz ini mengingatkan saya pada  Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bukan bermaksud membandingkan mereka. Tapi yang mereka lakukan lebih kurang sama:
Abu Bakar Ash-Shiddiq membebaskan budak dengan hartanya.
Rasyid Nikaz membebaskan perempuan bercadar dengan hartanya.
Seandainya mereka berdua hidup miskin, bisakah mereka membebaskan orang lain seperti itu? Tentu tak bisa
Sudah jadi hukum alam bahwa harta adalah kekuasaan. Barang siapa memiliki harta yang banyak, maka dia bisa menguasai dunia.
Regards from Jonru




Share:

Islam Merangkul Kedamaian

Secara pribadi , saya sangat menganggumi seorang Gus Dur dan saya yakin bahwa Islam adalah agama pembawa kedamaian. Namun, sayang sekali akhir-akhir ini label tersebut justru dirusak oleh oknum-oknum yang menganut fanatisme sempit dalam memaknai agamanya.

Kerap kali saya menemukan serangan psikologis dari agama terjadi lewat agitasi propaganda dengan memberikan stigma sesat. Hal itu akhirnya menjadi pembenaran dalam melakukan penyerangan, kekerasan, atau bahkan pembunuhan atas nama agama, khususnya di Indonesia.

“Wah, kelompok ini sesat! Mari kita haramkan!”

Secara tidak sengaja, hal itulah yang mereduksi titel agama kita, mendegradasi makna Tuhan kita. Terlihat jelas bahwa pandangan orang lain terhadap label tersebut adalah:

“Wah, tukang ribut! Sukanya cari masalah. Kenapa ga mau hidup berdampingan walau berbeda keyakinan? Kok egonya tinggi sekali?”

Suatu hari saya pernah bermimpi. Pada hari yang cerah itu, seorang anggota HTI merangkul anak-anak JIL, organisasi Gafatar, ataupun Ahmadiyah. MUI sibuk dengan rencana-rencana perdamaian antar umat beragama dan menghentikan semua stigma negatif yang diberikan terhadap umat minoritas sehingga tidak ada lagi konflik lagi atas nama agama.

Pada saat yang sama, semua orang berpikir bahwa ketika kita menyesatkan orang lain, orang itu adalah sama derajatnya dengan kita. Ya, mereka yang kalian yakini sebagai ciptaan Tuhan sesungguhnya memiliki keluarga dan mengharapkan hidup bahagia dengan kepercayaan mereka. Mereka memiliki kehidupan sendiri. Mereka semua saudara kita.

Terkadang dunia ini tidak hanya hitam dan putih. Membawa standar absolut kita terhadap orang lain dan ditambah unsur pemaksaan justru mereduksi agama kita sendiri.

Suatu hal yang kita miliki dicap buruk bukan karena orang lain, tetapi karena perlakuan kita sendiri. Jadi, marilah refleksikan artikel di atas. Saya yakin bila Tuhan sempat melihat umatnya di Bumi, Tuhan akan sangat bangga melihat kalian hidup tanpa mengkafir-kafirkan kepercayaan orang lain dan menoleransi keberagaman.

Regards from Jonru


Share:

Kamis, 10 November 2016

Sisi Pinggir Indonesia

Sebuah kesempatan langka bisa berkunjung ke Kulonprogo secara gratis, kala itu saya datang dalam rangka Bakti Sosial disana. Sesuatu yang sangat dibutuhkan banyak masyarakat. Kulonprogo adalah kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua di Yogyakarta. Sampai hari ini pengalaman berharga itu masih membekas di benak saya.

Berangkat menaiki truk dengan melewati jalan raya yang menghubungkan antara Kota Jogja dengan Kulonprogo. Awalnya sih perjalanan terasa sangat nyaman dan rileks walaupun dibawah terik panas matahari. Namun seketika jalan berubah menjadi tak bersahabat, yang awalnya beraspal mulus berevolusi menjadi bergelombang dan rusak, terasa seperti mengendarai rover di permukaan bulan.

Sekitar 30 menit saya ‘terpaksa’ menikmati jalanan tersebut selama menuju lokasi Bakti Sosial yang terpencil, dengan pemandangan jurang ditepi kanan dan tebing yang dikeruk disisi kiri. Terlihat juga pos-pos para pekerja pasir beserta alat-alat berat yang mangkal ditepi jalan, membuat jalan yang sebenarnya udah sempit menjadi sangat sempit lagi.

Itu baru masalah jalan, belum masalah listrik dan sebagainya. Jarak rumah antar warga pun sangat jauh, pertama kali saya kesana, saya merasa tersesat di hutan, karena tidak ada pertanda perkampungan disana. Yang ada hanya hutan, tebing yang dikeruk, jurang curam, tambang dan bekas longsor.

Sesampainya saya disana saya baru teringat mengapa harus membawa senter, ternyata, ketika malam, suasana disana berbeda 180' dengan suasana gemerlap kota. Disana gelap sekali, udah jarak antar rumah jauh banget. Kalau jalan-jalan malem gak bawa senter pasti akan tersesat, yakin.


Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi


Seperti itulah potret sebagian daerah Kulonprogo yang saya rasakan. Dimana infrastuktur yang semestinya membantu mobilitas masyarakat disana belum tersentuh sepenuhnya, sehingga berdampak buruk terhadap ekonomi masyarakat disana.

Padahal pada dasarnya gambaran umum mengenai pentingnya pembangunan dan perbaikan infrastuktur di Indonesia untuk menstimulasi kesejahteraan masyarakat. Sehingga ketika masyarakat tahu bahwa alokasi dana untuk pembangunan infrastuktur kecil, masyarakat akan kaget dan mempertanyakan dimana keseriusan pemerintah.

Mungkin akan ada yang bertanya ‘kalau misalnya dana yang dialihkan ke sektor infrastuktur lalu apa jaminannya benar-benar akan dibangun infrastuktur terebut?’. Pertanyaan itu sama naifnya dengan ‘kalau BBM tidak dinaikkan, apa jaminannnya rakyat tidak akan tercekik hidupnya?’

Dengan tidak adanya listrik di daerah-daerah pelosok Indonesia, air bersih tidak ada, sarana komunikasi yang terbelakang dan keadaan transportasi yang busuk. Yang saya maksud transportasi disini bukan hanya berbicara tentang kendaraan umum, tapi terlebih lagi, ketersediaan jalan raya yang bisa memperbaiki masalah jarak dan medan di daerah terpencil di Indonesia.

Masalah Indonesia adalah negara yang luar biasa besar. Secara medan, Indonesia itu luar biasa menantang. Kalau bukan infrastuktur, lalu bagaiamana lagi kita bisa membantu saudara-saudara kita yang berada di daerah terpencil dan pelosok. Karena dengan tersedianya infrasktuktur yang memadai akan mampu menopang kehidupan masyarakat yang memanfaatkannya, ekonomi membaik, mobilitas terjaga, pendidikan terjangkau, rakyat menjadi lebih makmur dan Indonesia semakin bersinar, tidak hanya di bagian tengahnya saja, namun juga disisi pinggirnya . Sekian





Share: