Rabu, 22 Juli 2026

2025 yang Telah Berlalu

2025 berjalan dengan biasa-biasa saja. Sangat bergelora dalam mengabdi di cabang. Hingga lupa kalo disaat yang sama juga menjalani studi magister di UIN. Akhirnya, secara sadar mengorbankan salah satunya: 2 semester tidak kuliah. Dan iya, secara sadar. 

Berada di cabang memang menyisakan pengalaman yang berharga. Bertemu kawan kolektif dari berbagai kampus. Dan mencoba menjadi kakak yang baik bagi semua komisariat. Setidaknya itulah ekspektasinya. 

Realitanya? Berpolitik dan bersenang-senang. Kendati programku berjalan semua, tapi sejujurnya aku merasa masih ada yang kurang. Tidak memiliki dampak ke komisariatku. Dan tidak memiliki dampak ke individuku. Setidaknya dampak yang signifikan. Tapi yasudahlah. Setidaknya telah berjuang dan mempertanggungjawabkannya hingga akhir.

Bertemu orang baru, dengan karakter baru, memang asyik dan melelahkan. Beberapa nama yang awalnya tidak akrab, akhirnya menjadi akrab. Bahkan membersamaiku, untuk tidak menyebut istilah kumanfaatkan, selama berada di cabang.

Ada Beni, sosok ketua yang lihai mengadu domba. Bukan nama baru, tapi baru benar-benar mengenal ketika di cabang. Ada Tsaqif, sekretarisku yang sangat nriman. Apapun ide dan keinginan yang kuungkapkan selalu diterima. Ada Dika, bendahara yang dermawan dan gemar memberikan subsidi untukku. Walau bodoh, tapi keberadaannya sangat membantu dalam meminimalisir pengeluaran ditengah ketiadaan pemasukan. Ada Taufiq, sekretaris yang sesungguhnya memang sekretaris. Banyak menginisiasi langkah, dan ya, sedikit terealisasi. Serta kawan-kawan lain di pimpinan cabang yang tidak bisa dikomentari satu per satu.

Selain proses di komisariat, proses di cabang mungkin salah satu fase yang mengajarkanku arti kehidupan. Bagaimana memperjuangkan kepentingan supaya berjalan walau harus berkonflik. Ya, berkonflik dengan kawan kolektif komisariat. Bagaimana mengemas sesuatu yang sebenarnya sepele, tapi terasa berbobot hingga membuat semua orang yakin. Bagaimana mempengaruhi satu sama lain agar tunduk dan patuh. Atau setidaknya tidak merintangi jalan. Bagaimana menegakkan hal-hal prinsipil, agar marwah organisasi tidak rusak. Contohnya, persoalan GMPK. Tentu dengan resiko dimusuhi. Tapi ngga papa, resiko berjuang.

Cukup banyak yang bisa diceritakan dan dikenang sepanjang tahun 2025, terkhusus selama di cabang. Sebagai pengingat, ada beberapa momen krusial yang bisa menjadi patokan, seperti PM3, Diksuswati, Simposium Moderasi Beragama, dan Tanwir. Di tahun ini pula aku mengenal MCPR dengan lagu-lagunya yang menyihirku untuk menjaga api jangan memadam.

Dan ya, aku juga sempat bekerja sebagai enumerator NIHR di Desa Bakalan, Bululawang selama 3 bulan. Bersama Dika, Pak Arif, Fiqi, dan Ikrima. Lucunya, tugasku melakukan survei kesehatan dan mengingatkan pola hidup sehat, tapi disaat yang sama aku merokok. Ya mau gimana lagi. Yang penting tugas kelar, dan digaji. 




Share:

Minggu, 19 Juli 2026

Tentang Musiknisasi

Akhirnya bisa diakses kembali di versi umumnya. Dengan mengeluarkan sedikit uang. Ya, menghilangkan blogspot di akhir alamat. Biar terkesan profesional. Dan berdoa semoga traffic bisa mengalir kembali. 

Pemilihan nama musiknisasi sebenarnya tanpa alasan. Tanpa filosofi. Muncul begitu saja di kepala pada saat itu. Tahun 2015. Niatnya satu, membuat blog musik dengan potensi traffic yang besar. Sesuatu yang pasti dicari setiap hari. Tanpa mengenal kadaluarsa. Lahirlah tulisan tentang chord.

Aku juga ingin berbagi rekomendasi band dan lagu yang menurutku bagus. Subjektif memang, tapi coba dibungkus dengan objektif. Melalui riset kecil. Saat itu kugunakan istilah survei. Walau sekarang kusadari kalau istilah itu kurang tepat. Dengan bantuan Youtube dan Google Search, lahirlah tulisan tentang lagu terbaik.

Kedua rubrik tersebut, baik chord maupun lagu terbaik, hampir semuanya berupa lagu yang sedang kusukai saat itu. Sebut saja Endank Soekamti, Superman Is Dead, dan lain sebagainya. Ada juga beberapa band punk lokal. Pada saat itu masih lokal. Belum terkenal. Tapi sekarang, sangat populer. Salah satunya Rebellion Rose.

Kegemaranku menulis, membuatku sering berkhayal untuk menjadi seorang jurnalis. Jurnalis musik tepatnya. Terlebih aku hobi menikmati musik. Entah mendengarkan, atau menonton lewat konser. Hal yang kedua terakhir kulakukan sebelum Covid. Setelah Covid sudah tidak pernah.

Menurutku jurnalis musik itu keren. Bisa bertemu musisi, berbicara tentang musik, seluk-beluk sebuah lagu, hingga memberikan opini tentang geliat musik yang tak pernah padam. Tulisan jurnalis musik itu ngga bertele-tele. Singkat, padat, tapi bernas. Soleh Solihun, Adib Hidayat, Rudolf Dethu, adalah beberapa nama yang tulisan musiknya beberapa kali kubaca. 

Dan saat ini, alhamdulillah bisa menjadi jurnalis. Tapi bukan jurnalis musik. Ya ngga papa, setidaknya setengah impian waktu remaja bisa tercapai. 

Share:

Jumat, 17 Juli 2026

Setelah Hiatus

Postingan terakhir tertanggal 15 Desember 2021. Dan sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2026. Ya, kurang lebih 5 tahun tidak mengalami pergerakan. Hiatus. Tidur panjang. Bahkan mungkin, bisa dikatakan lupa.

Di rumah seorang kawan, di Villa Bukit Tidar, iseng-iseng mencoba membuka kembali memori seputar blog. Kubuka semua email yang pernah ku buat. Kucari satu-persatu blog apa saja yang pernah menghiasi sejarah hidup. Dan ya, tersisa 2 blog. Satu tentang catatan harian. Satu tentang musik.

Musiknisasi, namanya. Semacam bentuk pelampiasan diri atas rasa cinta terhadap musik, terkhusus aliran punk. Dimulai di tahun 2015 di Yogyakarta. Ya, masih berada di pondok. Tanpa handphone, tanpa laptop. Alhasil kegiatan rutin mingguan adalah ke warnet. 

Dalam bahasa sekarang, mungkin semacam project kecil-kecilan untuk mengelola website. Motifnya satu, traffic. Kalopun dapat adsense ya alhamdulillah. Tentu, sampai sekarang belum pernah mendapatkan adsense haha.

Dengan sedikit merenung. Berkhayal. Bertanya ke Google Gemini apakah menghidupkan kembali Musiknisasi adalah hal yang prospek kedepannya. Sepertinya menarik. Akhirnya ku putuskan untuk membeli domain dan melanjutkan kembali.

Motifnya tetap sama, traffic. Kalopun kedepan dapat adsense ya alhamdulillah. Dan sepertinya AI cukup membantu mengakselerasi artikel baru dan mereview artikel lama. Sejujurnya, aku tidak ingin latihan menulis di Musiknisasi. Atau mempromosikan tulisan lewat sana. Hanya murni traffic. Artikel berbasis AI. Tinggal optimalisasi SEO. Itu saja.

Lalu tentang catatan harian ini. Aku tidak yakin punya cukup waktu, energi, dan keinginan untuk menulis dengan konsisten disini. Tapi dengan melihat yang sudah-sudah, catatan ini cukup berguna bagiku. Setidaknya untuk merawat kembali memori masa lalu. Baik yang sedih, maupun yang senang. Semacam self-motivation.

Laki-laki tidak bercerita. Ya setidaknya tidak bercerita lewat verbal. Tapi aku memutuskan untuk bercerita melalui tulisan. Disini. Tidak setiap hari. Hanya di momen-momen tertentu yang menurutku pantas untuk dikenang. Dan ya, momen yang memiliki banyak arti.

Itu saja. Semoga terlaksana. 









Share: