Satu kalimat yang patut dicatat: Kita mendiamkan organisasi itu salah. Tapi kesalahan kita tidak separah apa yang mereka buat.
Sekilas kalimat tersebut nampak gagah dan penuh kontemplasi, namun akan terasa janggal jika tidak mengetahui konteks yang terjadi dari ungkapan tersebut.
Ya, organisasi ini mengalami pembelahan. Konflik. Bukan dalam bentuk fisik, melainkan kepentingan individu ya dibumbui perkaderan. Kalo dalam bahasa Sofi, disebut sebagai: Menyulap ruang belajar menjadi panggung patronase. Mengaburkan tujuan pendidikan dengan investasi politik.
Sejujurnya, aku siap saja, dan kader-kader lain yang sepemikiran denganku juga mungkin siap, untuk terus berkonflik, berbeda pandangan, menajamkan gagasan. Hanya saja yang menjadi pertimbangan adalah, medan pertempuran ini di organisasi.
Pertanyaannya, apakah pimpinan siap?
Itulah sebabnya memilih menepi. Membatasi diri. Atau bahkan dalam batasan tertentu terkesan menjauh. Memang sedemikian rupa jalannya. Kendati konflik itu suatu keniscayaan, tapi dalam hal ini siapa yang ikhlas dan rela organisasi dan pimpinan rusak karena konflik diatas mereka, yang bahkan mereka tidak tahu menahu. Dan siapa yang mau membenahi itu semua?
Sama seperti tulisan sebelumnya, ini bukan soal menang kalah, tetapi bagaimana menjaga barisan tetap utuh. Dan menepi adalah salah satu jalan agar barisan tetap utuh walaupun kehilangan disrorientasi. Toh akhirnya waktu yang menyadarkan, bahwa selain keutuhan, barisan juga memerlukan kesatuan frame tujuan dan cara gerak. Iya waktu. Entah kapan.
Bagaimana jika memilih jalan penyadaran, edukasi, indoktrinasi? Bisa saja, tetapi ya seperti halnya diatas: memicu perselisihan di medan perang yang bernama organisasi. Seandainya medan perang ini bukan organisasi, mungkin akan berbeda opsi yang dipilih.
Bayangkan, kita mengorbankan tenaga, waktu dan pikiran untuk melakukan kerja-kerja edukasi, mengorganisir pimpinan, membetulkan langgam organisasi dengan penuh kesabaran, tetapi jerih payah itu semua terpatahkan hanya demi kepentingan politik sesaat. Bukan kepentingan politik organisasi. Tetapi kepentingan politik sektoral. Ya, persoalan jabatan, persoalan regenerasi semata. Bukan kaderisasi!.
Tentu kita akan kecewa. Dan akan berusaha sebaik mungkin agar kepentingan tersebut gagal. Begitupun sebaliknya, orang yang berkepentingan juga akan membalas. Lingkaran setan ini akan terus berjalan. Lantas siapa yang dikorbankan? Organisasi.
Maka menepilah. Sampai organisasi ini, semua kader-kadernya, entah yang tua atau muda, sepenuhnya sadar. Saling merefleksikan diri, kritik oto kritik, atas perbuatan selama ini yang membuat organisasi mundur jauh. Sangat jauh.
Membuat resolusi kolektif. Mengencangkan kembali kaderisasi agar membuahkan regenerasi yang layak. Bersama-sama memperbaiki dan membangun rumah kita yang bernama Renaissance ini. Sangat mulia sekali kan. Tapi kapan?
Entah. Bisa setelah ini. Bisa jadi nanti. Atau bahkan bertahun-tahun kedepan. Dinanti saja.


