Rabu, 09 September 2026

Beberapa Hari yang Telah Berlalu

Pusing. Suntuk. Jiwa dan raga terasa hampa. Kosong tapi terasa berat. Susah untuk dijelaskan. Tapi setidaknya itu yang kurasakan beberapa hari ini. Setelah mendapakan ucapan yang kubenci dan sebisa mungkin kuhindari. 

Orang lain menyebutnya galau. Tapi kupikir lebih dari itu. Ya, hilang arah.

Hari-hari kuhabiskan untuk merenung. Kontemplasi. Refleksi diri atas apa yang telah terjadi. Tentang kewajiban yang lain? Ah bodo amat. 

Aku belum pernah merasa di kondisi seperti ini. Dan rasanya berat sekali. 

Kuputar kembali lagu Romi & The Jahats yang setia menemani di kala pilu. Kutenggak kembali cairan yang kutinggalkan beberapa tahun lalu. Aku tidak tau cara bagaimana menghilangkan rasa murung ini. Aku tidak mungkin menyentuh kembali obat-obatan. Tidak mungkin juga bergaul lagi di lingkungan rumah bordil. 

Sungguh berat. Berat sekali, ah.

Sempat sekali aku pergi ngopi dengan kawan-kawan demisioner cabang. Sengaja biar tidak gelisah sendiri di Bale. Butuh udara segar. Butuh suasana yang berbeda. Sembari membawa cairan di botol tupperware, kuhabiskan malam dengan bermain ceki dan memutar lagu Siti Nurhaliza. Artis Melayu yang baru kutahu kemarin.

Dengan spontan Dika bertanya soal playlistku yang berubah. Apakah aku sedang galau? Apakah aku putus?

Kusanggah jawaban itu. Everything is fine. Walaupun memang tidak demikian kenyataannya. 

Jatuh cinta memang sakit. Tapi lebih sakit lagi kehilangan cinta. Astaga, kok bisa aku seperti ini.

Pagi ini, dengan menenggak botol Iceland dan Ashoka, kuputuskan untuk menuliskan apa yang ada di kepalaku beberapa hari ini. Hal-hal yang membuatku kehilangan spirit. 

Tulisan tersebut memang tidak menjadi jaminan semuanya akan menjadi lebih baik seperti sedia kala. Tapi setidaknya, beban dalam diriku sedikit berkurang. Sembari terus berdoa semoga semua baik-baik saja.

Tulisan yang diketik dengan perasaan yang gundah gulana. Tulisan yang diketik beririsan dengan air mata. Sudah lama sekali aku tidak menangis. Ah karena cinta aku jadi cengeng.

Untuk kamu yang di seberang pulau, aku minta maaf atas apa yang telah terjadi. Dan mohon maaf juga aku menolak dan menggugat keputusanmu soal perpisahan.

Percayalah, kita ditakdirkan untuk bersama. Soal perpisahan, biarkan maut yang menjawab. Sekali lagi mohon maaf.






Share:

Kamis, 03 September 2026

Memperjuangkan Organisasi

Sebuah catatan yang ada di handphone-ku. Entah kutulis kapan. Tapi yang jelas, ini soal organisasi. 

Organisasi tidak pernah dibangun untuk menjadi milik segelintir orang. Dan ya, tidak semua senior layak diteladani. 

Ada yang tertatih-tatih dalam mendidik agar kadernya layak. Ada pula yang berjuang sekuat tenaga dalam mendidik agar terbangun patronase.

Ada yang senantiasa bersabar dalam menikmati proses, ada pula yang menginginkan segalanya serba instan.

Ada yang memberi jalan untuk kadernya bertumbuh, ada pula yang sibuk memastikan tidak ada yang tumbuh lebih tinggi darinya. 

Ada yang memikirkan visi besar organisasi, ada pula yang hanya memikirkan kepentingan politik jangka pendek. 

Bedanya hanya satu: yang satu dikenang karena ketulusannya, yang kedua dikenang karena egonya.

Mungkin saja, organisasi ini terkendala problem solving. Dan ya, keberanian berorganisasi dilihat dari keberanian menyampaikan kritik atau kekeliruan di hadapannya langsung. Begitupun sebaliknya. Termasuk juga soal kecakapan, dan keberanian membangun argumentasi. 

Yang terjadi hari ini adalah kader berpraktik untuk dirinya sendiri, bukan untuk organisasi. Soal senior, problemnya memang tidak mau. Atau tidak diakses. Maka, harus ada yang mengorganisir!

Tapi siapa? Ya siapa saja yang mau dan mampu. Yang pasti, untuk sementara ini, saya undur diri. Menepi secara sadar. Dan terus berharap dan berdoa. Walau mungkin konsekuensinya jauh lebih besar. Ya, semoga berkah rahmat ilahi melimpahi perjuangan kami. Begitu kata salah satu hymne.

Sebagai penutup, ada sebuah paragraf dari Buya HAMKA yang sangat menarik, dan patut kita refleksikan. Dikutip dari buku Iman dan Amal Sholeh terbitan Pustaka Panjimas tahun 1982.

"Hal yang demikian dapatlah dimisalkan kepada yang mendirikan partai politik, mempunyai AD/ART, memberi garis-garis tertentu daripada ideologi yang hendak mereka perjuangkan. Dan orang diajak dan disarani supaya masuk kedalam partai itu. Tentu saja partai itu mempunyai disiplin yang tidak boleh dilanggar. Karena suatu partai yang tidak mempunyai disiplin bukanlah partai. Bertambah teguh disiplin bertambah kualitas partai, meskipun anggotanya tidak banyak. Sebaliknya suatu partai yang bagaimanapun besar dan banyak anggotanya, kalau disiplinnya tidak ada, kalau anggota dibiarkan saja semau-maunya mencampur aduk ideologi yang mereka perjuangkan dengan ideologi yang lain, niscaya runtuhlah partai itu. Bukan runtuh dari luar, tapi runtuh dari dalam."


Share: