Sabtu, 22 Agustus 2026

Merawat Dua Bayi

Memang belum menikah, tapi rasanya seperti sedang merawat bayi. Harus sabar, tenang, menguras banyak energi, dan ya, harus teliti.

Mungkin seperti ini rasanya jadi seorang ibu. Tidak banyak mengeluh, meski aslinya melelahkan.

Bayi yang kurawat ada 2, yang satu memang benar-benar baru lahir, yang satunya lahir sebenarnya memiliki usia yang panjang, tapi perilaku dan treatmentnya layaknya seorang bayi.

Bayi pertama bernama Ruang Nalar. Sebuah inisiasi (bahasa yang lebih cocok daripada proyek olah-olah) yang memiliki tujuan besar sebagai media literasi digital. Kurang lebih seperti itu, walaupun ada misi lain dibaliknya.

Bayi kedua bernama Musiknisasi. Sebuah platform (sebenarnya website berbasis blog yang lebih tepat) yang membahas persoalan musik. Mulai dari chord hingga rekomendasi lagu. Tujuannya sederhana, melampiaskan hasrat akan kesukaan dengan musik punk, Ya walaupun memiliki harapan juga untuk menghasilkan uang kedepannya.

2 bayi tersebut, tidak pernah menangis. Tapi kalau aku tidak memberinya susu, tak akan mungkin melihat senyumnya kelak ketika telah dewasa. 

Share:

Kamis, 13 Agustus 2026

Vis a Vis

Satu kalimat yang patut dicatat: Kita mendiamkan organisasi itu salah. Tapi kesalahan kita tidak separah apa yang mereka buat.

Sekilas kalimat tersebut nampak gagah dan penuh kontemplasi, namun akan terasa janggal jika tidak mengetahui konteks yang terjadi dari ungkapan tersebut.

Ya, organisasi ini mengalami pembelahan. Konflik. Bukan dalam bentuk fisik, melainkan kepentingan individu ya dibumbui perkaderan. Kalo dalam bahasa Sofi, disebut sebagai: Menyulap ruang belajar menjadi panggung patronase. Mengaburkan tujuan pendidikan dengan investasi politik. 

Sejujurnya, aku siap saja, dan kader-kader lain yang sepemikiran denganku juga mungkin siap, untuk terus berkonflik, berbeda pandangan, menajamkan gagasan. Hanya saja yang menjadi pertimbangan adalah, medan pertempuran ini di organisasi.

Pertanyaannya, apakah pimpinan siap?

Itulah sebabnya memilih menepi. Membatasi diri. Atau bahkan dalam batasan tertentu terkesan menjauh. Memang sedemikian rupa jalannya. Kendati konflik itu suatu keniscayaan, tapi dalam hal ini siapa yang ikhlas dan rela organisasi dan pimpinan rusak karena konflik diatas mereka, yang bahkan mereka tidak tahu menahu. Dan siapa yang mau membenahi itu semua?

Sama seperti tulisan sebelumnya, ini bukan soal menang kalah, tetapi bagaimana menjaga barisan tetap utuh. Dan menepi adalah salah satu jalan agar barisan tetap utuh walaupun kehilangan disrorientasi. Toh akhirnya waktu yang menyadarkan, bahwa selain keutuhan, barisan juga memerlukan kesatuan frame tujuan dan cara gerak. Iya waktu. Entah kapan.

Bagaimana jika memilih jalan penyadaran, edukasi, indoktrinasi? Bisa saja, tetapi ya seperti halnya diatas: memicu perselisihan di medan perang yang bernama organisasi. Seandainya medan perang ini bukan organisasi, mungkin akan berbeda opsi yang dipilih.

Bayangkan, kita mengorbankan tenaga, waktu dan pikiran untuk melakukan kerja-kerja edukasi, mengorganisir pimpinan, membetulkan langgam organisasi dengan penuh kesabaran, tetapi jerih payah itu semua terpatahkan hanya demi kepentingan politik sesaat. Bukan kepentingan politik organisasi. Tetapi kepentingan politik sektoral. Ya, persoalan jabatan, persoalan regenerasi semata. Bukan kaderisasi!.

Tentu kita akan kecewa. Dan akan berusaha sebaik mungkin agar kepentingan tersebut gagal. Begitupun sebaliknya, orang yang berkepentingan juga akan membalas. Lingkaran setan ini akan terus berjalan. Lantas siapa yang dikorbankan? Organisasi.

Maka menepilah. Sampai organisasi ini, semua kader-kadernya, entah yang tua atau muda, sepenuhnya sadar. Saling merefleksikan diri, kritik oto kritik, atas perbuatan selama ini yang membuat organisasi mundur jauh. Sangat jauh.

Membuat resolusi kolektif. Mengencangkan kembali kaderisasi agar membuahkan regenerasi yang layak. Bersama-sama memperbaiki dan membangun rumah kita yang bernama Renaissance ini. Sangat mulia sekali kan. Tapi kapan?

Entah. Bisa setelah ini. Bisa jadi nanti. Atau bahkan bertahun-tahun kedepan. Dinanti saja.





Share:

Jumat, 07 Agustus 2026

Menjaga Keutuhan Barisan

Ini bukan persoalan kawan atau lawan, tapi bagaimana menjaga keutuhan barisan. Kalimat tersebut terlontar dari seorang tetua, setelah ku ceritakan bagaimana kondisi dinamika organisasi. Terlebih setelah adanya proses yang kusebut sebagai operasi yang terstruktur, sistematis, dan massif (TSM). 

Kiranya di organisasi manapun, adanya gesekan, perselisihan, hingga konflik adalah sebuah keniscayaan. Ketika berbagai kepala dengan latar belakang, pemikiran, dan ego yang berbeda disatukan dalam satu tubuh, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang wajar. 

Namun, ujian sesungguhnya dari kedewasaan berorganisasi bukanlah seberapa sering kita bersepakat, melainkan bagaimana kita menyikapi ketidaksepakatan tersebut.

Setelah mengalami proses yang panjang, dan mengamati dinamika yang terjadi selama bertahun-tahun, mungkin tendensi alami manusia adalah mencari perlindungan pada mereka yang sependapat. 

Ya, mengelompokkan dan mulai membatasi diri. Mereka yang sependapat dianggap kawan, sedangkan mereka yang memiliki cara pandang berbeda dianggap sebagai lawan.

Entah cara pandang demikian bisa dikatakan sebagai jebakan ego atau bukan. Tapi yang kurasakan selama ini, jujur melelahkan. Energi yang ada habis terkuras untuk memenangkan perdebatan, untuk membuktikan siapa yang paling benar, dan bahkan, untuk menjatuhkan mereka yang berbeda pandangan. 

Padahal kita sedang berada di kapal yang sama. Saat kita melubangi sisi kapal tempat lawan berada, pada hakekatnya kita semua pada akhirnya akan tenggelam.

Lantas, apa sebenarnya tujuan kita ada di sini? Pertanyaan ini akan terus kutanyakan ke setiap kader di semua generasi. Agar ya, kita kembali berpikir, refleksi, muhasabah diri, bahwa tidak ada satu pun orang yang lebih besar dari organisasi. 

Lahirnya ide sehebat apapun, tidak akan ada harganya jika pelaksanaannya justru menghancurkan rasa kekeluargaan dan keutuhan barisan. Bagiku, barisan yang utuh bukanlah barisan yang diisi oleh orang-orang yang selalu sepakat. Barisan yang utuh adalah barisan yang diisi oleh orang-orang yang tahu kapan harus menekan ego pribadi, dan kembali menyamakan derap langkah demi satu tujuan yang sama. Bukankah itu kandungan dari As Shaf ayat 4?

Mungkin, di kondisi saat ini, peranku hanyalah memberi nasihat. Bahwa kebijakan apapun harus dimusyawarahkan. Harus melibatkan semua kepala. Agar kebijakan yang diambil tepat, memiliki reasoning yang matang, serta semua orang merasa bertanggung jawab atas kesuksesan kebijakan tersebut. 

Dan ya, aku tidak pernah melarang untuk diskusi dengan siapapun. Walaupun ternyata ada orang yang melarang untuk berdiskusi denganku. Its okay. 

Aku hanya berdoa, semoga segala kebingungan bisa didiskusikan dengan orang yang tepat. 



Share:

Rabu, 05 Agustus 2026

Ujian Untuk Musiknisasi

Baru saja pulang dari rapat di Sekretariat Aremania Utas. Iseng buka dashboard Musiknisasi. Biasa, cek statistik. Apakah mulai naik, cenderung stabil, atau bagaimana?

Tak lupa membuka Google Search Console. Untuk memastikan semua tulisan terbaru ter-index Google. Beberapa hari kebelakang memang sedikit menulis tentang lagu-lagu terpopuler dari beberapa band punk, terkhusus di tahun 2026. Parameternya sederhana, tayangan Youtube dan Spotify. Dan band-band yang ku ulas juga band favorit, ada Rebellion Rose, MCPR, dan Romi and The Jahats.

Beberapa menit kemudian, blog terkunci. Diduga melanggar kebijakan Blogger. Jujur kaget. Baru pertama kali mengalami masalah seperti ini. Terlebih sebulan yang lalu udah terlanjut beli domain untuk menghidupkan kembali Musiknisasi dari hiatus sepuluh tahun. Belum lagi beli followers untuk menghidupkan halaman Facebook Musiknisasi.

Memang apa yang dilanggar? Perasaan tulisannya biasa saja. Tidak mengandung pornografi, atau kekerasan. Kupikir-pikir, mungkin permasalahan hak cipta. Setelah membaca sana-sini, iya, lirik bahkan chord lagu ternyata mengandung hak cipta. Dan banyak tulisan di Musiknisasi sepuluh tahun yang lalu seputar itu. 

Padahal lagi semangat-semangatnya menghidupkan kembali, eh malah kena blokir. Walaupun ada kesempatan banding sih, tapi ga terlalu banyak berharap. Kalaupun lolos, ya alhamdulillah. Kalau ngga, mungkin waktunya fokus mengerjakan tesis dan project Ruang Nalar. 

Sejujurnya yang bikin penasaran, Musiknisasi terkunci karena ada yang melaporkan, atau memang sistem Google dapat menjelajah sampai sejauh itu. Karena beberapa hari ini, cukup rutin sih blog walking dan meninggalkan spam backlink haha. 



Share:

Minggu, 02 Agustus 2026

Membersamai Singa Kembali

Beberapa hari yang lalu, aku dihubungi oleh Sam Barok untuk terlibat dalam organisasi Aremania Utas. Hmm Arema lagi. Sejujurnya aku mulai tidak tertarik lagi dengan Arema pasca tragedi Kanjuruhan. Kehilangan ghirah. Lebih baik menyibukkan diri dengan hal lainnya.

Tapi setelah berpikir dengan setengah matang, nampaknya menarik untuk dicoba. Membuka pergaulan baru, suasana baru, atau barangkali bisa menumbuhkan kembali ghirah ber-Arema. 

Toh aku tidak ada kesibukan lain, selain mengerjakan tesis, menjalankan Ruang Nalar, dan hal buang-buang waktu lainnya.

Aku ditempatkan di Divisi Keolahragaan, dibawah naungan Presidium Bidang 3, Sam Riki. Bukan basic ku, tapi bolehlah dicoba terlebih dahulu.

Saat pelantikan di Cemara Ballroom, Singosari, ada beberapa momen yang menurutku patut untuk diabadikan.

Pertama, setelah sekian lama, akhirnya mendengarkan kembali, bahkan bernyanyi bersama, lagu anthem Aremania, yakni Malang Tanah Kejayaan. Lagu yang selalu kuputar di komisariat saat awal-awal purna dari pimpinan. Entah mengapa, setiap mendengarkan lagu ini, rasa cinta terhadap Malang semakin bertambah. Entah ya.

Kedua, baru pertama kali bertemu dengan Bung Ovan Tobing, salah satu sesepuh Arema yang masih hidup. Setelah mendengar pidatonya, aku merasa bahwa beliau adalah salah satu orator handal. Diksi yang beliau pilih sungguh menggelegar. Membuat jiwa singa-singa seolah mengaum kembali. Serius, orasinya begitu sangar. Semoga panjang umur, Bung.

Aremania utas


Share: