Ini bukan persoalan kawan atau lawan, tapi bagaimana menjaga keutuhan barisan. Kalimat tersebut terlontar dari seorang tetua, setelah ku ceritakan bagaimana kondisi dinamika organisasi. Terlebih setelah adanya proses yang kusebut sebagai operasi yang terstruktur, sistematis, dan massif (TSM).
Kiranya di organisasi manapun, adanya gesekan, perselisihan, hingga konflik adalah sebuah keniscayaan. Ketika berbagai kepala dengan latar belakang, pemikiran, dan ego yang berbeda disatukan dalam satu tubuh, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang wajar.
Namun, ujian sesungguhnya dari kedewasaan berorganisasi bukanlah seberapa sering kita bersepakat, melainkan bagaimana kita menyikapi ketidaksepakatan tersebut.
Setelah mengalami proses yang panjang, dan mengamati dinamika yang terjadi selama bertahun-tahun, mungkin tendensi alami manusia adalah mencari perlindungan pada mereka yang sependapat.
Ya, mengelompokkan dan mulai membatasi diri. Mereka yang sependapat dianggap kawan, sedangkan mereka yang memiliki cara pandang berbeda dianggap sebagai lawan.
Entah cara pandang demikian bisa dikatakan sebagai jebakan ego atau bukan. Tapi yang kurasakan selama ini, jujur melelahkan. Energi yang ada habis terkuras untuk memenangkan perdebatan, untuk membuktikan siapa yang paling benar, dan bahkan, untuk menjatuhkan mereka yang berbeda pandangan.
Padahal kita sedang berada di kapal yang sama. Saat kita melubangi sisi kapal tempat lawan berada, pada hakekatnya kita semua pada akhirnya akan tenggelam.
0 komentar:
Posting Komentar