Pusing. Suntuk. Jiwa dan raga terasa hampa. Kosong tapi terasa berat. Susah untuk dijelaskan. Tapi setidaknya itu yang kurasakan beberapa hari ini. Setelah mendapakan ucapan yang kubenci dan sebisa mungkin kuhindari.
Orang lain menyebutnya galau. Tapi kupikir lebih dari itu. Ya, hilang arah.
Hari-hari kuhabiskan untuk merenung. Kontemplasi. Refleksi diri atas apa yang telah terjadi. Tentang kewajiban yang lain? Ah bodo amat.
Aku belum pernah merasa di kondisi seperti ini. Dan rasanya berat sekali.
Kuputar kembali lagu Romi & The Jahats yang setia menemani di kala pilu. Kutenggak kembali cairan yang kutinggalkan beberapa tahun lalu. Aku tidak tau cara bagaimana menghilangkan rasa murung ini. Aku tidak mungkin menyentuh kembali obat-obatan. Tidak mungkin juga bergaul lagi di lingkungan rumah bordil.
Sungguh berat. Berat sekali, ah.
Sempat sekali aku pergi ngopi dengan kawan-kawan demisioner cabang. Sengaja biar tidak gelisah sendiri di Bale. Butuh udara segar. Butuh suasana yang berbeda. Sembari membawa cairan di botol tupperware, kuhabiskan malam dengan bermain ceki dan memutar lagu Siti Nurhaliza. Artis Melayu yang baru kutahu kemarin.
Dengan spontan Dika bertanya soal playlistku yang berubah. Apakah aku sedang galau? Apakah aku putus?
Kusanggah jawaban itu. Everything is fine. Walaupun memang tidak demikian kenyataannya.
Jatuh cinta memang sakit. Tapi lebih sakit lagi kehilangan cinta. Astaga, kok bisa aku seperti ini.
Pagi ini, dengan menenggak botol Iceland dan Ashoka, kuputuskan untuk menuliskan apa yang ada di kepalaku beberapa hari ini. Hal-hal yang membuatku kehilangan spirit.
Tulisan tersebut memang tidak menjadi jaminan semuanya akan menjadi lebih baik seperti sedia kala. Tapi setidaknya, beban dalam diriku sedikit berkurang. Sembari terus berdoa semoga semua baik-baik saja.
Tulisan yang diketik dengan perasaan yang gundah gulana. Tulisan yang diketik beririsan dengan air mata. Sudah lama sekali aku tidak menangis. Ah karena cinta aku jadi cengeng.
Untuk kamu yang di seberang pulau, aku minta maaf atas apa yang telah terjadi. Dan mohon maaf juga aku menolak dan menggugat keputusanmu soal perpisahan.
Percayalah, kita ditakdirkan untuk bersama. Soal perpisahan, biarkan maut yang menjawab. Sekali lagi mohon maaf.


