Kamis, 30 November 2017

Ampuni Hamba Wahai Puan

Kulipat kalimat sajak kepadamu agar ucapku tak jadi serapah. Kias-kias kukikis habis serpihan yang menumpul - agar tak melukaimu lagi. Lukamu perkara lukaku.

Lalu bagaimana puan?

Kita tak pernah terpatri atau katamu sempat dalam sempit masa yang salah termaknai. Kita yang pura-pura bernapas dari paru-paru penuh sesak asap dalam desak himpit yang salah asumsi.

Kau yang teramat, maafku bukanlah sesuatu yang menyembuhkan kepergian.  

Lalu bagaimana puan?

Kau dan aku, bisakah kita sembuhkan? Mungkin jawabnya ada didalam bisumu selama ini.

Aku rasa harus berhenti. 

Berhenti mencari tujuan yang akan kusinggahi nanti. Berhenti berharap apa yanh telah datang. Mereka hanya sekedar mampir, bukan untuk menetap.

Aku rasa harus berhenti.

Bercerita tentang apa yang aku inginkan. Karena sebenarnya mereka tidak memperdulikan. Pada akhirnya yang kita miliki hanyalah diri kita sendiri. 

Jalani saja kehidupanmu hari ini, mengikuti arus yang akan membawamu pada tujuan pemberian Tuhan. Berhentilah berharap. Karena Tuhan maha membolak-balikkan kehidupan.

Cukuplah kamu dan Tuhan yang tahu akan mimpimu. Biarkan Tuhan dan semesta yang mengetahui isi hatimu. 

Bukankah Tuhan lebih dari cukup bagi kita?

Atau aku terlantur karena kekurangan kopi? Ampuni hamba wahai puan :)

- November, 2017

Share:

Selasa, 28 November 2017

Kulelapkan Tidur Sang Tuan

Akhir-akhir ini sang tuan banyak merenungkan tentang jatuhnya bintang, pagar, rumah, halaman dan nyamuk yang berngiang-ngiang di sekitar. Nyamuk buruk yang menghisap darah. Sekaligus perasaan rindu setiap malam. Yang hanya dapat disampaikan kepada bulan terang, dalam diam.

Manusia dan kejatuhannya tidak direncanakan. Setiap hari, bangun dipagi hari, tidak dalam kondisi sama. Tetapi. Jatuh karena seseorang yang sama di ingatan paling pertama.

Hampir seratus malam telah terlewati, namun tak satu rasa pun silih berganti. Sekuat-kuatnya sabar menanti, pasti akan runtuh pula nanti.

Mungkin semesta belum ingin memberi tahumu, tapi suatu saat sang angin malam akan menyampaikan pilu yang kini belum terdengar.

"Sungguh bodoh!", ucap sang tuan pada dirinya.

Namun apa daya sang tuan yang bodoh, mengubah rasa?

Mungkin masa lalu tak begitu menyakitkan jika semuanya jelas. Tak ada yang samar. Dan tak ada lagi pertanyaan. Andai.

Dahulu, sang 'adiratna' adalah halaman berisikan kumpulan sajak. Yang meluluhkan hati 'sang tuan'. Tapi ia terlalu rapuh, sangat rapuh. Sang tuan tak kuasa menahannya, ia tak sanggup.

Mungkin sudah saatnya sang adiratna menyadari, ia harus tahu diri. Bahwa ia bukan lagi adiratna sang tuan. 

Namun ia harus tahu pula bahwa buku itu tak lengkap tanpanya. Dan tak akan pernah lengkap lagi tanpanya.

Namun? Siapa sangka, bisa saja sang malam berhati dingin. Mungkin rindu, akan berujung tanpa ampun. Rindu yang memaksa tuan untuk merindu. Akan sajak yang pernah memberinya rasa setiap kali membacanya. Ia rindu rasa itu.

Lalu ia ingat, halaman itu telah dirobek dan dibuangnya, dikala ia tak kuasa menahannnya. Mana mungkin ia bisa membacanya kembali? Tetapi, akankah ia mencarinya kembali. Mungkin untuk membaca terakhir kalinya. Merasakan pilu yang dulu pernah diberinya. 

Namun membuatnya nyaman.

Terima kasih, sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan di malam-malam tanpa beban. Diselasar kamar, dengan rokok digenggaman.

- November Akhir, 2017




Share:

Selasa, 14 November 2017

Bola Pencabut Nyawa

Dunia pesepak bolaan Indonesia kembali berduka, salah satu supporter klub ibukota, Persija Jakarta, terenggut nyawanya karena dibacok oleh oknum yang katanya dari Bobotoh Viking.

Saya sedang tak ingin menyalahkan ini itu, hanya saja melihat peristiwa yang terjadi di lapangan. Menunjukkan bahwa belum dewasanya sepak bola Indonesia. Baik dari sisi internalnya, maupun eksternalnya.

Setelah kemarin Bhayangkara FC resmi menjadi juara Liga 1 dengan penuh kontroversi di baliknya, sampai kejadian terbaru ini. Rasanya tidak ada obat yang mampu menyehatkan penyakit kambuhan ini.

Rivalitas dalam sepak bola merupakan hal yang biasa, sekaligus rumit. Apalagi jika menyangkut supporter kedua kesebelasan. Selalu saja ada korban yang menjadi tumbalnya.

Sejatinya, sepak bola adalah ajang prestasi bagi pemain dan hiburan rakyat bagi masyarakat yang menikmatinya. Yang berkewajiban menunjukkan kualitas fisik adalah orang yang bermain, bukan orang yang mendukung dibelakangnya.

Sebagai orang yang berdomisili di Yogyakarta, saya mengagumi supporter PSS Sleman: Brigata Curva Sud. Mereka berhasil menunjukkan jati diri mereka sebagai orang-orang yang memiliki daya kreativitas tinggi.Tidak peduli tim mereka menang atau kalah, yang terpatri dalam hati mereka adalah memberikan semangat kepada pemain di lapangan. Tak ayal mereka sangat dikenal di kancah Asia lewat kreasinya.

Syahdan, sebagai Aremania, saya juga bangga akan orang-orang Malang. Meskipun sempat termakan oleh kontroversi dualisme, mereka tetap setia mendukung tim kebanggaan. Bahkan sudah lama sekali saya tak mendengar Aremania membuat onar, semoga tetap istiqomah.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa masih ada chant-chant supporter Indonesia yang bernada rasis, apalagi ketika melawan rival abadinya. Sebagai bagian dari mereka, saya merasa bahwa hal ini merupakan sesuatu yang lumrah, karena ketika kita menyanyikan chant tersebut, gelora jiwa kita lebih membara daripada menyanyikan chant yang lain. Yang pada akhirnya mempengaruhi mental pemain di lapangan, atau dalam istilah lain up mental dan down mental.

Tapi sebaiknya itulah batas terakhir dari sebuah rivalitas di lapangan. Selebihnya jadilah manusia seperti biasa. Jangan menjadi hewan yang buas setiap saat dan tak berakal.
Ingat, membunuh tak pernah dibenarkan oleh negara, bahkan semua agama.
Bangkitlah sepak bola Indonesiaku :)

Regards



Share:

Minggu, 29 Oktober 2017

Sayonara Kawan

Ada keputusan yang memang harus tetap diambil meskipun nanti kita akan dicap jahat bagai tak berhati. Salah satunya adalah memilih pendidikan. Tak peduli berapa lama pendidikan itu, masa depan adalah masa depan.

Mulut-mulut mulai berkoar, mencari-cari sebab, menghakimi, menasihati. Sedikit yang benar-benar peduli, sebagian hanya mencari bahan untuk diteruskan menjadi kabar burung tak berujung.

Aku tak ingin bertele-tele karena kurasa malam ini adalah malam berkabung. 2 sahabat saya, sebut saja Zakka dan Sultan. Dengan rela dan terpaksa meninggalkan kebersamaan kami yang telah terjalin selama 6 tahun.

Keputusan yang sulit memang, tapi inilah resiko persahabatan. Selalu ada jurang tajam yang menguji hubungan kita. Persetan!

Zakka, sahabat saya sejak kelas 1, tempat berbagi cerita keluh kesah, meskipun kadang tak berfaedah. Mendadak teringat angkringan Mbah Jenggot di asrama 9 dulu, dengan kopi joss-nya yang membara, kadang kami saling berlomba menghabiskan arang yang beraroma kopi.

Menanjak dewasa, kami mulai bergelut dengan dunia game online. Renaissance 68 TM, Rizq-Net, Underground, Hachi, Gamer Village dan Decade, menjadi saksi bisu betapa candunya kami akan game. Semua terekam jelas di ingatan dengan candanya yang diluar batas kewajaran manusia.

Tak lupa kamar kecilmu disebelah asrama yang menyisakan kepahitan-kepahitan minuman tak bermanfaat. Kegilaan bercampur kebahagiaan ruhani yang menenangkan diri ketika dirundung masalah. Klimaksmu yang luar biasa ketika sampai pada level Legend di Mobile Legend, motor maticmu yang disulap menjadi prototype KLX dan beragam hal absurd lainnya.

Sultan, sesosok manusia yang lamban bak koala. Sahabat ketika hasrat akan musik berada di titik kulminasi. Tak terhitung berapa kali menemaniku menikmati ramainya konser. FSTVLST, Shaggy Dog, Dipha Barus, Naif, Payung Teduh dan Braves Boy. Mereka akan menjadi saksi hidup betapa bodohnya dirimu ketika berada di kerumanan orang moshing dan jamming.

Entah kata-kata apalagi yang bisa kugores untuk melukiskan sifat kalian berdua yang tak wajar. Kita masuk di tempat yang sama, tumbuh dan berkembang di tempat, tapi sayang sekali, persetan dengan kata berpisah.

Sejujur apapun alasan yang kuberi, selalu ada kata 'tapi' untuk menyangkal harapan agar kami keluar secara bersama-sama dari tempat ini. Tentunya keluar dengan wajar.
Sungguh aku tidak menyangka semua akan berpisah secepat ini, dan dengan alasan yang tak masuk akal ini. Aku hanya bisa bergumam dan bergumam. Semoga ini menjadi jalan yang baik bagimu, masa depanmu adalah masa depanmu.

Persetan dengan CCTV!



Share:

Jumat, 27 Oktober 2017

Surat Yang Tenggelam

Orang-orang kota berjalan dengan ponsel menempel di telinga dan menyetir mobil dengan gawai menggelantung di pundak, berbicara ke alat itu dikerumunan, di supermarket bahkan ketika menyapu trotoar. Seakan-akan wabah kelisanan telah mengambil alih hidup mereka.

Suatu hari, seseorang mengirimiku pesan, ia mengajakku untuk bermain surat-menyurat. Hah? surat menyurat! gumamku. Di zaman yang serba praktis ini ternyata masih ada orang yang beraktifitas dengan surat. Seketika gairahku bangkit. Sudah lama aku tidak menjalani hobi menulis, kuambil saja kesempatan ini sekaligus mengasah kembali kemampuan menulisku yang telah pudar.

Menit berlalu, kami mulai memperkenalkan diri, ia juga memperingatkan bahwa fungsi surat tidak untuk menulis kata-kata pendek. Surat diciptakan untuk bercerita, curhat, menulis kalimat-kalimat panjang yang melelahkan. Hingga kutulis beberapa paragraf untuknya.

Sengaja kuberi judul 'Prolog' dibagian atas karena kurasa ini adalah awal dari ribuan kata-kata yang akan menjadi novel.

Ini adalah sesuatu yang anti-mainstream. Disaat semua orang berlomba-lomba menyingkat kata, kini aku mulai memperpanjang kata. Hal yang menarik, begitu pula kabar surat kami. Berjalan dengan cerita-cerita indah yang menekuk pipi, senyuman. Kadang pula kisah sedih yang menurunkan airmata, tangisan.

Aku sangat menikmati perjalanan surat-menyurat ini. Tenggelam di dasar samudera kata-kata yang kutulis dan yang ia tulis. Sampai pada akhirnya semua berakhir, secara sepihak. Entah mengapa suratku tak kunjung ia balas, mungkinkah salah alamat? atau terjatuh ketika kurir pos mengantar? atau mungkin ia sengaja tak membalasnya.

Hanya Tuhan dan ia yang tahu.

Aku tahu, surat adalah benda, bukan makhluk hidup. Hubungan yang dijalin manusia dengan benda awet yang sanggup bertahan berbulan-bulan mengalahkan bulir-bulir pasir waktu, tak pernah berlangsung lugu. Panggilan hidup manusia menjadi terikat dengan bubur kayu lunak yang tak terhancurkan ini.

Aku bukan orang yang suka mencari-cari dibawah kursi. Aku suka dibuai oleh sang dalang, efek-efek sederhana pentas teater, dan melodi mengesankan kata-kata. Namun hilangnya kabar surat yang nan jauh disana membuatku tersadar akan garis bayang-bayang tak terlihat yang meyatukan jasad dan tekad huruf-huruf tercetak didalam permainan klasik ini.

Betapa pun jalan hidupnya menggelitik rasa ingin tahuku, toh aku harus meneruskan jalan hidupku sendiri. Berpacu dengan sasaran yang telah kutetapkan sendiri. Ambisi ini tampak pretensius dibandingkan membaca buku Tahafut Al Falasifah-nya Imam Ghazali. Ini bukan perkara sepele, mohon dipahami.

Apakah ini pertanda akan punahnya surat-menyurat? Hingga kata-kata itu tersimpan dalam catatan hal-hal yang wajib dilestarikan oleh UNESCO. Aku tak tahu, tapi kurasa ini tuntunan zaman dan sulit sekali untuk mengalahkannya.

Yang pada akhirnya, berhenti sudah surat-menyuratku dengan ia. Tak ada lagi berita, kabar, dan cerita yang masuk kedalam pos suratku. Tampaknya ramalanku meleset, kisah ini hanya terdiri atas 'Prolog' dan beberapa cerita pendek. Tak cocok lagi untuk disusun menjadi novel seperti Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken-nya Jostein Gaarder,

Jujur, aku tidak tega menyudahi ini, tapi mau apa lagi. Semoga Tuhan mmeberkati!

Regards.




Share:

Reborn - Mati Suri


Sudah lama jemari ini tidak menyentuh huruf-huruf mungil keyboard. Ada rasa rindu untuk kembali beraktifitas dengan-nya. Tombol capslock, backspace, shift dan ctrl selalu menjadi teman yang menyenangkan. Mereka diam tapi pengertian. 

Indukmu, laptop, kini sudah mulai bersih. Layar tak lagi berdebu, sela-sela sistem tak lagi menjadi sarang semut. Bahkan kabel penyalur energimu yang sempat hilang entah berantah kini telah kembali ke pelukan. 4 bulan memang waktu yang lama hingga aku terlupa kalau memilikimu.

Aku terlalu larut dalam membaca, tenggelam dalam kumpulan kertas-kertas bertinta. Hingga aku lupa bahwa aku juga punya kewajiban untuk merawatmu dan membesarkanmu. Buku fiksi yang telah memanjakan imajinasiku, buku non-fiksi yang telah menyadarkan rasionalitasku, dan buku keagamaan yang telah mencerahkan spiritualitasku.

Aku kerap bertanya-tanya mengapa kusimpan buku-buku yang mungkin baru ada gunanya jauh dimasa mendatang, judul-judul yang tak terkait dengan minatku pada umumnya, buku yang pernah kubaca sekali dan tak akan kubuka berpuluh-puluh tahun setelahnya.

Tapi bagaimana mungkin aku membuang dan melupakan, katakanlah, komik Detective Conan-nya Aoyama Gosho yang membuat masa kecilku penuh dengan rasa ingin tahu akan misteri, atau Laskar Pelangi yang menjadikan masa remajaku serat pertemanan, Madilog, Gerpolek dan judul-judul lain yang diperuntukkan di rak teratas, tempat mereka bersemayam dan berdiam diri dalam kedudukan keramat yang kita banggakan. 

Kini aku sadar, apa gunanya membaca, wawasan, pengetahuan jika hanya disimpan di otak dan kalbu semata. Bukankah saraf otakmu itu hanya hidup untuk sementara?

Seorang bijak pernah berkata: Menulislah, maka engkau akan menjadi bagian dari sejarah. 

Hari ini, adalah hari yang istimewa. Domain yang telah lama mati kini telah hidup kembali. Lahir kembali. Reinkarnasi dari yang dulu. Hadir kembali wadah untuk menyalurkan hasrat menulisku, nafsu pikiranku dan gairah kebahagiaanku.Tapi aku tidak akan meninggalkan hobi membaca, juga tidak mengabaikan hobi menulis. 

Aku akan tetap membaca, hingga mataku tak bisa lagi melihat kata-kata

Aku akan tetap menulis, sampai jariku tak mampu lagi terangkat ketika sholat.

Regards.


Share:

Jumat, 02 Juni 2017

Tahun Yang (Seharusnya) Produktif

Tidak terasa kita sudah sampai di pertengahan tahun 2017 ini. Waktu berjalan terlalu cepat sehingga aku pun belum sempat untuk melangsungkan mandi. heuheu. Baru setengah tahun berjalan, tapi sudah beribu masalah dunia hadapi, mulai dari ISIS yang semakin membrutal, berkembangnya isu-isu HOAX, dan yang paling hangat, terutama di Indonesia adalah konfrontasi atas nama agama dan etnis.

Saya setuju dengan pidato Presiden Jokowi dalam pembukaan Rakornas Pengawasan Intern Pemerintahan. Di dalam kesempatan tersebut, Pak Jokowi menyatakan alasan mengapa Indonesia begitu tertinggal saat ini. Nah salah satu faktor terbesarnya adalah masyarakat Indonesia masih suka berkutat dan memperdebatkan hal yang tidak produktif. 

Dan yang lebih menarik lagi, Pak Jokowi mengkomparasikan Indonesia dengan Amerika Serikat yang memiliki inovator bernama Elon Musk. Elon Musk merupakan inovator, sekaligus pengusaha, teknisi dan investor. Ia merupakan CEO dari perusahaan tekonologi SpaceX,Tesla Motor, Paypal dan berbagai perusahaan futuristik lainnya.

Nah kembali ke masalah di Indonesia, mengapa di Indonesia tidak bermunculan orang-orang seperti Elon Musk tersebut? 

Dalam suatu wawancara tv, Elon Musk menyatakan bahwa apabila sains dan agama bersatu, maka tidak akan bisa berkembang. Sains dan agama adalah suatu hal yang berbeda. Meminjam istilah dari biological ternama Stephen Jay, yakni Non Overlapping Magistaria (NOMA), yaitu 2 hal yang tidak bisa saling tumpang tindih.

Melihat dia sebagai orang Amerika dan berkata seperti itu, menurut saya wajar saja. Tapi saya tetap berkeyakinan bahwa sains dan agama tidak bisa dipisahkan dan dengan hadirnya agama bukan berarti sains tidak bisa berkembang. 

Harus kita mengerti bahwa perkembangan sejarah sains itu sendiri dipengaruhi oleh adanya agama dan selama perkembangannya beberapa kebudayaan menyatakan adanya keselasaran antara sains dan agama seperti yang terjadi di Andalusia. Orang-orang seperti Elon Musk hanya menitik beratkan sejarah peradaban barat dan gereja dalam menyimpulkan gagasan bahwa sains dan agama saling bertolak belakang. Nyatanya pada masa bani Umayyah, Abbasiyah dan Fatimiyah perkembangan ilmu sains berkembang sangat pesat.

Pada intinya, bagaimana bisa kita membicarakan Artificial Intellegent, Terraforming Planet Mars dan berbagai inovasi lainnya apabila masyarakat Indonesia masih mempercayai bahwa bumi itu datar dan memperdebatkannya.

Suatu hal yang tidak produktif bukan 

Regards from 0




Share:

Maaf, Aku Memilih Kiri Kawan

Bukan salahmu, kawan
5 tahun yang lalu aku mengambil jalan yang berbeda
Aku lebih memilih kiri dengan segala kesendiriannya

Bukan salahmu, kawan
Kau mengambil jalan yang tak sama denganku
Jalan kanan bersama kawan-kawan lain

Semua hanyalah pilihan
Yang akan kembali pada jalan yang sama
Jalan yang mempertemukan kita semua seperti sedia kala

Kelak,
Kita membawa cerita masing-masing
Suka duka masing-masing
Dan kisah aneh lainnya.

Tapi, sungguh sayang sekali
Aku merasa berbeda saat itu, terasing

Aku hanya bisa mendengarkan kisahmu
Lika-likumu bersama kawan-kawan sejalanmu
Yang terdengar seru sekali

Sementara dirimu, 
Bisa merasakan adegan sebenarnya
Mengetahui seluk-beluk kisah itu.
Seakan menjadi tokoh serba tahu

Memang benar,
Tertawa karena mendengarkan
Dan tertawa karena merasakan
Sungguh berbeda

Tapi itu bukan salahmu, kawan
Itu adalah salahku
Maaf, aku memilih kiri kawan


Warung Mbak Inge, 2 Juni 2017

Regards




Share:

Rabu, 31 Mei 2017

Ekonomi Tidaklah Mudah

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena alhamdulillah di umur yang ke 17 ini saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu bulan penuh keberkahan dan sedikit kelaparan, bulan Ramadhan. 

Hari dimana umat muslim diseluruh dunia berfastabikul khairat, memanen pahala di ladang mereka yang mulai berbuah. Tidak ada bulan yang lebih baik daripada bulan ramadhan, pada bulan inilah Al-Quran diturunkan yang kemudian kita kenal sebagai Nuzulul Quran.

Betapa mulianya bulan Ramadhan, heuheu

Mengawali bulan ramadhan di tahun ini, saya mendapatkan pengetahuan baru dan sangat urgent bagi saya sebagai calon pengusaha sukses heuheu. Pengetahuan ini saya dapatkan ketika mengikuti kajian shubuh bersama Profesor Candra Fajri di Masjid At Taqwa. 

Beliau merupakan pakar ekonomi di Universitas Brawijaya Malang.

Pada kesempatan yang mengantukkan tersebut, beliau bercerita panjang lebar mengenai ekonomi negara dan ekonomi islam. Gaya bicara beliau sangat menarik, dengan nada yang berat khas orang tua tetapi menghanyutkan dan berapi-api khas anak muda.

Salah satu hal yang baru saya tau adalah mengenai tanah wakaf, karena beliau menekuni bidang ekonomi, wajar jika beliau memahami dampak positif dan negatif serta cara mengakalinya. 

Jadi, ternyata, tanah wakaf itu, mau luasnya besar ataupun kecil, jika dalam jangka waktu tertentu tidak ada kegiatan yang berarti disana, maksudnya dibiarkan begitu saja. Maka, negara berhak mengambil alih tanah wakaf tersebut. 

Dan itu sudah diatur didalam undang-undang. Hebat bukan, heuheu

Oleh karena itu, bagi yang mempunyai tanah wakaf tapi masih nganggur, mending dimanfaatkan aja, mau ditanami apa gitu kek, atau disewakan juga bisa. Toh  kalo kita manfaatkan tanah tersebut, maka nilai tanahnya bisa naik. Dan itu benar-benar berdampak positif loh.

Selain itu, hal yang paling saya ingat adalah perihal LHKPN. Yakni Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. Yups, ini adalah suatu kewajiban bagi setiap pejabat negara, tak terkecuali.

Konon, katanya pengisisan LHKPN ini sangatl sulit, karena harus mendetail dan dapat dipertanggung jawabkan. Darimana uang ini berasal, terus dihabiskan buat apa. Semua sangat mendetail, ini mobil beli dimana dan pake uang siapa, tv itu juga pake uang siapa, dan lain-lain. Nyebai dah pokoknya.

Toh kalo laporannya palsu dan tidak dapat dipertanggung jawabkan, maka orang tersebut bisa dipidana alias dipolisikan. Heuheu

Makanya, paling enak adalah menjadi pejabat kere, heuheu

Regards




Share:

Sabtu, 13 Mei 2017

Cikal Bakal Cendekiawan

Dewasa ini, hampir segala sesuatu bisa dikendalikan secara mobile. Tak perlu repot-repot, tinggal mencet layar HP, insya allah keinginan bisa dikabulkan. Mulai dari ojek online, toko online, makanan online, pacar online dan lain sebagainya. Hari ini, saya mendapatkan pengetahuan baru dari seorang supir taksi online.

Seorang pria paruh baya, tampan dan luas wawasannya. Diliat dari wajahnya saja, sepertinya ia seorang mahasiswa yang nyambi cari uang dengan menjadi supir taksi online.

Ketika saya duduk dan mobil berjalan, tiba-tiba ia memulai percakapan tidak penting alias basa-basi dengan saya. Rupanya ia paham keadaan taksi yang hening dan ia berinisiatif memecahkan keheningan tersebut. Dasar anak muda huehue.

Ia bercerita panjang lebar dengan tema yang beragam, mulai dari pengalamannya menjadi supir taksi online, serta komentar-komentarnya mengenai Muhammadiyah dan NU yang dibumbui selera humoris.

Kalo orang NU itu suka guyon, kalo orang Muhammadiyah suka serius
Kalo orang NU itu suka pake sarung dan peci, kalo orang Muhammadiyah suka pake celana dan jas

Tapi kita patut bersyukur ada NU dan Muhammadiyah, karena dua ormas islam inilah melengkapi kehidupan beragama di Indonesia. Kalo NU tidak, Muhammadiyah iya, Kalo Muhammadiyah tidak, NU iya. Jadi klop dan saling melengkapi.

Konon katanya KH. Hasyim Asyari mendirikan NU karena salah satu faktor, yakni ingin menjaga tradisi nusantara agar tidak hilang. Nah sedangkan Muhammadiyah lebih kontemporer dan berpikir maju, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi mengenai tradisi yang hilang dan ancaman masa depan.

Kembali lagi ke supir taksi tadi, ia juga sempat menginggung sekolah saya, Mu'allimin. Ia sangat kagum dan getol dengan sekolah yang ia beri label sekolah cikal bakal cendekiawan. 

Anak Mu'allimin itu sangat paham aqidah, akhlak, mana yang baik dan mana yang buruk, pokoknya segala hal tentang agama deh. 

Tapi walaupun paham, belum tentu mereka melaksanakannya loh, heuheu

Regards

Share:

Jumat, 12 Mei 2017

Entah Sejak Kapan

Entah sejak kapan kita bersimpangan jalan. Rasanya dulu kita berteman. Berjalan beriringan. Berkelana mencari kebenaran.

Entah sejak kapan jembatan yang menghubungkan kita dirobohkan. Tanyalah mereka yang pernah bersamaku di sebuah kota kecil di kaki gunung Cikurai ketika menuntut ilmu kebajikan. Poster besar pak tua kharismatik bersurban, hitam berjanggut perak tertempel kokoh di dinding bilik, lurus di atas dipan. Tidakku ingat benar dari mana gambar besar itu didapatkan. 

Entah dibeli, entah hadiah dari teman. Yang pasti kami tidak terlalu peduli dari sekolah apa pak tua itu ditempatkan. Pak tua itu menjadi semacam sebuah inspirasi penuh letupan. 

Sebuah keberanian mendobrak dan melawan. Di bawah sudut poster itu aku tuliskan sebuah kaligrafi penuh bara: isy kariman au mut syahidan! Dalam sorot mata tajam pak tua itulah kami mengaji, membaca, bercanda, berkelahi dan belajar ilmu kehidupan. Sungguh disana tidak ada riak kebencian.

Entah sejak kapan kita terpisah tanpa sempat berpamitan. Kami para belia Islam, dulu, menggandrungi seorang alim yang meneriakan pembebasan. Di dalam lemariku yang berdesakan, ada buku pria plontos yang menganjurkan kami menjadi raushan fikr: nabi-nabi sosial, para pemikir tercerahkan. Rasanya aku dekat dengan dia, entah kapan kebencian itu mulai diajarkan.

Ya, sejarah kita memang sejarah berlainan. Tapi entah sejak kapan masa lalu getir itu diundang hadir kembali disini jika hanya ingin menebalkan garis batas antara kami dan kalian.

Entah sejak kapan benih kebencian itu kembali dijamah. Izinkan aku beragama secara sederhana untuk mengusir jejak kebencian sampai musnah. Tidak perlulah urat leherku menyembul menjajakan asmaul husnah. Tidak perlu pula jubah kalau hanya untuk menutup hati yang penuh nanah.

Regards from Raja Juli Antoni


Share:

Kamis, 11 Mei 2017

Kekancan Time

Setiap orang adalah guru
Setiap buku adalah ilmu 
Setiap tempat adalah sekolah 

Mungkin itulah salah satu quotes yang saya temukan di Instagram yang terus teringat di pikiran saya. Terutama setiap tempat adalah sekolah, yups, setuju sekali saya dengan yang satu ini. Mau di kelas, di toilet, di masjid, di gereja dan dimana saja, itu hakekatnya adalah sekolah.

Kemarin ini, saya mendapatkan sekolah baru dan ilmu baru dari guru baru. Pokoknya baru gitu dah, heuheu. Nama tempatnya adalah bukit Pengilo. 

Saya kesana bersama kawan-kawan seperjuangan yang ingin refreshing ditengah penatnya Penilaian Akhir Kelas. Lumayan lah sedikit menambah energi positif dengan melihat indahnya segoro kidul disertai merdunya deru ombak.

Menikmati indahnya angkasa dengan bintang-bintang yang tak beraturan letaknya, tapi konon jika bisa mengimajinasikannya maka akan menghasilkan rasi bintang. Thats feel good. heuheu

Jagung setengah bakar dengan bumbu mentega saja sudah terasa kenyang di perut, memang karena sebelumnya saya sudah makan.

Dengan banyak keseruan lain yang saya rasakan, saya mendapatkan ilmu baru, yakni ilmu keterbukaan. Hikmah ini diambil dari permainan TOT, Truth or Truth.

Kita harus bisa mengungkapkan apa sebenarnya diri kita, apa keinginan dan masalah kita, sehingga kedepannya kawan-kawan disamping kita bisa membantu kita dalam merealisasikan itu semua. 

Regards

Share:

Rabu, 10 Mei 2017

Indonesia Berkabung

           Vonis untuk Ahok Adalah Matinya Keadilan, Kemenangan Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia                            #IndonesiaBerkabung



Share:

Jumat, 05 Mei 2017

Pendidikan Militer

Beberapa waktu lalu sempat muncul isu tentang wajib militer. Banyak orang menyambutnya dengan riang, ada juga yang mengernyitkan dahi ketika mendengarkannya.

Dan alhamdulillah itu masih isu, masih opini, dan tidak dilaksanakan untuk saat ini. Tapi tidak tahu untuk kedepannya.

Bagi saya, wajib militer adalah hal yang penting tapi sedikit benci. Benci tapi penting. Heuheu

Sama halnya dengan Pelatihan Bela Negara dan kedisplinan siswa beberapa hari lalu di Akmil Magelang. Benci tapi penting.

Kegiatannya benar-benar overmind, sangat padat, bahkan waktu untuk beribadah pun sampai terikhlaskan.

Makan dihitung, mandi dihitung, salah dikit push up, senggol diikit skor jam. 

Lelah heuheu.

Sungguh beruntunglah dirimu yang belum pernah merasakan pendidikan Akmil. Heuheu

Regards

Share:

Selasa, 02 Mei 2017

Mendengarkan Pejabat

Datang akan pergi
lewat kan berlalu
ada kan tiada
bertemu akan berpisah

Keluarga Resident (91) hari ini telah menjadi purnakader Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Mereka telah resmi menjadi alumni. Setlah 6 tahun lamanya terkurung di kawah candradimuka. Berbagai pelajaran berharga dan tak berharga tentu telah mereka dapatkan. 


Dengan segala keunikan dan ke-estetikan mereka, keluarga 91 dilepas oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dihadiri oleh salah satu pejabat penting di Indonesia. Yups, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Bapak Zulkifli Hasan.


Kebetulan saat itu saya menjadi bagian iringan penyambut beliau, saya memakai jas IPM dan bertatap muka secara dekat dengan beliau yang kemudian dengan sigap beliau berjalan menuju kursi tamu di depan barisan undangan.


Beberapa saat kemudian, beliau naik ke atas mimbar untuk memberikan pidato sekaligus sosialisasi 4 pilar. Perpisahan feat sosialiasi 4 pilar, menggelikan bukan.


Ketika momen yang santai dan penuh haru malah dijejali dengan sesuatu yang formal, sungguh racikan yanh tidak pas. Heuheu

Awalnya beliau bercerita tentang masa kecilnya, cukup menarik. Tapi ketika masuk bagian sosialiasi, keadaan mulai berubah.

Semua menjadi membosankan, garing, stagnan, tak ada inovasi sama sekali.

Padahal yang ngomong ketua MPR loh, ketua MPR!

Tapi kok memuakkan yah.

Sayang sekali.

Regads





Share: